IMG_20150530_165229

ADAKITANEWS, Kediri – Musim pendaftaran sekolah berdampak menurunnya omzet penjualan makanan. Pasalnya, banyak warga yang terpaksa memotong anggaran belanjanya untuk kebutuhan pembayaran sekolah anaknya.

Penurunan itu berkisar antara 20 hingga 30 persen. Penurunan omzet itu juga memaksa para pengusaha dan pedagang makanan mengurangi jumlah produksi mereka. Diperkirakan, lesunya penjualan produk makanan ini akan berlangsung hingga 2 minggu ke depan.

Samsul, salah seorang pengusaha tahu asal Desa Gempolan, Kecamayan Gurah, Kabupaten Kediri menuturkan, lesunya penjualan makanan sudah berlangsung sejak seminggu terakhir. Omzet tahu yang diproduksi dan dijualnya menurun hingga 30 persen.

“Ini rata dialami seluruh penjual makanan, baik tahu, tempe, kerupuk, maupun yang lainnya. Di hari biasa, saya produksi lima kali masak tahu tapi dengan kondisi ini hanya tiga kali masak saja. Untuk sekali masak dibutuhkan kedelai sebesar 4 kilogram,” jelasnya.

Kondisi ini, kata Samsul biasanya berlangsung hingga dua  minggu paska pendaftaran sekolah. “Biasa terjadi seperti ini setiap tahun, makanya kita sudah antisipasi sejak awal dengan mengurangi jumlah produksi,” ujarnya.

Sementara, Diana, salah seorang orang tua mengaku terpaksa menekan biaya belanja setiap hari untuk dapat membiayai sekolah anaknya. Sebab, untuk biaya pendaftaran sekolah, Diana mengaku membutuhkan biaya yang cukup tinggi.

“Anak saya baru lulus SMP, sekarang masuk SMA. Untuk pendaftaran di SMA biayanya cukup besar, sampai habis Rp. 3,5 juta. Itu untuk biaya pendaftaran, seragam, baju pelajaran serta kebutuhan lain,” ungkapnya.

Padahal, dikondisi biasa, Diana mengaku menghabiskan biaya sebesar Rp. 50 ribu untuk kebutuhan belanja setiap harinya. “Untuk belanja lauk pauk, sayuran dan kebutuhan lain biasanya sampai Rp. 50 ribu, tapi karena kita butuh bayar sekolah saat ini ya hanya Rp. 20 ribu saja,” pungkasnya. (Blot).

Keterangan Gambar : Pabrik tahu yang menurun omzetnya menjelang pendaftaran sekolah