Nasib Sekolah Terpencil, 36 Tahun Tak Tersentuh Renovasi

2016-05-02_19.02.24ADAKITANEWS, Jombang – Sebuah Sekolah Dasar Negeri di Jombang, Jawa Timur, selama 36 tahun, belum tersentuh renovasi. Kini, kondisi dari sekolah yang berada di desa terpencil itu mulai lapuk dan reyot.

Yakni SDN Pojokklitih 2 di Kecamatan Plandaan. Gedung sekolah yang dibangun oleh pemerintah sejak tahun 1979 silam itu kondisinya cukup memprihatinkan. Beberapa atap sekolah, tampak nyaris ambruk akibat tidak pernah tersentuh renovasi sejak 36 tahun lamanya.

Sementara, dinding yang terbuat dari kayu,  kini sudah banyak yang lapuk dan berlubang. Ditambah lagi dengan ubin yang sudah mulai jebol membuat kondisi sekolah semakin parah.

Para siswa mengaku was-was dan takut dengan kondisi ruang kelas yang mulai lapuk dimakan usia.  Kepala Sekolah SDN Pojokklitih 2, Wanisis, berharap ada perhatian dari pemerintah, minimal ada upaya renovasi. Pasalnya, kondisi sekolah tersebut sudah sering kali mengkhawatirkan karena pernah ambruk saat para siswa sedang belajar.

“Sudah 36 tahunan, dibangun sejak tahun 1979. Yang jelas ini sudah mengajukan proposal ke pihak yang berwenang tapi sampai saat ini belum ada realisasinya. Bisa lihat sendiri sudah ada penyangganya itu hanya salah satu dari pihak sekolah agar tidak terlalu membahayakan, sebenarnya sudah membahayakan”, kata Wanisis, Senin (02/05).

Di SDN Pojokklitih 2 yang berada diujung hutan perbatasan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro ini  terdapat tujuh orang guru dan 38 siswa yang belajar mulai dari kelas satu hingga kelas enam.

Selain kondisi gedung Sekolah yang tidak layak, buruknya infrastruktur jalanan juga mewarnai pemandangan proses belajar mengajar di sekolah terpencil itu. Puluhan tahun, seluruh guru yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, harus berjuang bertaruh nyawa  untuk sampai ke sekolah tempat mereka mengajar.

Mau tidak mau para guru yang tempat tinggalnya berasal dari kota atau kecamatan lain harus menyusuri hutan dan menaklukkan jalanan berat untuk sampai di sekolah yang berada di Dusun Rapah Ombo tersebut. Salah satu guru, Aris Shandi menuturkan,  Selain jalanan cadas berbatu, para guru juga harus menembus jalanan licin berlumpur sejauh 13 kilometer untuk sampai di tempat mereka mengabdi.

Bahkan, karena medan sangat berat, dalam tiap perjalanan mereka sering kali terhambat.  Tak jarang dalam perjalanan, kendaraannya rusak yang menyebabkan mereka datang terlambat untuk sampai di Sekolah.

“Utamanya itu perjalananya karena memang jalurnya seperti itu ya jatuh, ban bocor terus gladak sampai bawah (sekolah-red), kemudian baut-bautnya protol, itu biasa. Sukanya kalau sudah sampai sekolah lihat anak-anak sudah menunggu dari pagi, itulah membuat semangat saya. Ternyata saya dibutuhkan disini”, kata Aris Shandi salah satu guru.(Tari/Jati)

Keterangan Gambar : Siswa yang tetap belajar meski kondisi bangunan sekolah mengkhawatirkan

Recommended For You