ADAKITANEWS, Lamongan – Mungkin selama ini masyarakat hanya tahu kalau Lamongan terkenal dengan kuliner soto ayam, penyetan lele, dan tahu campur saja. Sebenarnya masih ada satu lagi kuliner Lamongan yang wajib dicoba, yaitu nasi boran. Sayangnya kuliner ini tidak terdapat di luar Kota Lamongan. Jika penasaran, pecinta kuliner harus mengunjungi kota ini terlebih dahulu. Karena penjual nasi boran ini hanya berasal dari satu kampung di daerah Lamongan yang masih memiliki hubungan kerabat, dan resepnya hanya dimiliki oleh kampung itu saja.

=========

Jika sudah masuk kawasan Kota Lamongan, tak sulit menemukan penjual nasi boran ini. Pasalnya, makanan khas itu sudah banyak tersebar di emperan-emperan dan alun-alun Kota Lamongan. Penjual nasi boran ini kebanyakan menjajakan dagangannya secara lesehan. Disebut nasi boran lantaran tempat nasi yang mereka bawa bernama boran, atau bakul besar yang terbuat dari anyaman bambu.

Nasi Boranan ini merupakan hidangan khas Lamongan yang terdiri dari nasi, bumbu, lauk dan rempeyek. Bumbu dari nasi boranan ini, terdiri dari rempah-rempah yang sudah dihaluskan. Sedangkan lauk pauk yang ditawarkan oleh penjualnya sendiri bermacam-macam. Ada daging ayam, jeroan, ikan bandeng, telur dadar, telur asin, tahu, tempe sampai ikan sili.

Yang khas dari Nasi Boranan ini adalah lauknya yang bernama empuk, pletuk, juga ikan sili. Karena sebenarnya lauk yang asli dari dulu adalah ikan sili. Harganya relatif murah. Satu porsi plus minum air mineral kemasan gelas, pengunjung hanya membayar 10 ribu rupiah saja.

Lastri, penjual nasi boran di depan Plasa Lamongan ini contohnya. Wanita berusia 50 tahun yang berasal dari satu desa di Lamongan ini mengaku masih memiliki hubungan keluarga dengan para pemilik resep nasi boranan.

Lastri mengaku, resep ini hanya dimiliki oleh warga desanya. Meski bukan warga asli desa tersebut, namun Lastri memperoleh resep tersebut setelah diajari oleh mertuanya, yang asli warga desa tersebut. “Dulu yang ngajari mertua saya,” ujarnya.

Meski suaminya hanya buruh biasa dan ia menjual nasi boran, namun ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. “Alhamdulillah sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya.

Uniknya penjual nasi boran ini akan bisa dijumpai terus selama 24 jam. Namun ibarat kerja di pabrik, mereka punya shift jam pergantian dengan penjual yang lain. Jadi bukan satu orang yang berada di tempat itu selama 24 jam.(sid2)

Keterangan gambar : Suasana kuliner khas Lamongan, nasi boran.(foto : mus purmadani)