ADAKITANEWS, Tulungagung – Potensi pariwisata di Kabupaten Tulungagung yang sebagian besar merupakan wisata alam, memiliki risiko kecelakaan yang lebih besar. Agar wisatawan merasa nyaman ketika mengunjungi obyek wisata seperti kawasan pantai, gunung, hutan, sudah selayaknya faktor keselamatan menjadi perhatian bagi para pengelola obyek wisata.

Faktanya, di beberapa destinasi wisata di Kabupaten Tulungagung belum menempatkan faktor keselamatan menjadi prioritas. Hal ini terlihat dari minimnya sarana dan prasarana kelengkapan penyelamatan di obyek wisata, baik itu di pantai, air terjun, telaga maupun obyek wisata alam lainnya. Kalaupun ada, kondisinya masih kurang atau bahkan tidak memadai. Selain sarana, dari sisi sumberdaya manusianya juga kurang mumpuni untuk melakukan penyelamatan.

Pengelola wisata tidak saja hanya memahami sadar wisata melalui sapta pesona wisata, tetapi juga harus paham dan mengerti teknis-teknis tertentu yang berkaitan dengan pelayanan wisatawan. Selain menguasai teknik memandu yang profesional, juga harus bisa melakukan penyelamatan jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, sehingga wisatawan merasa aman dan nyaman.

Kondisi ini diakui Kabid Pengembangan Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung, Heru Juniarto. Dia menyadari, objek wisata yang rata-rata merupakan wisata alam mengandung risiko besar pada pengunjung yang datang.

“Kita menyadari risiko itu, termasuk juga SDM serta sarana dan prasarananya yang masih kurang. Namun kita mengupayakan secara bertahap. Seperti adanya penyuluhan, pelatihan penyelamatan dan lainnya,” kata Heru Juniarto disela-sela kegiatan penyuluhan bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kabupaten Tulungagung, Selasa (28/11).

Lanjut Heru, sementara ini di masing-masing destinasi wisata minimal sudah ada petugas keamanan. Hanya saja kebanyakan dari mereka masih minim pengetahuan tentang teknik penyelamatan yang benar.

“Kita programkan memberikan bekal pengetahuan dan pelatihan kepada pengelola ataupun Pokdarwis untuk pencegahan serta bantuan penanganan terhadap timbulnya risiko kecelakaan. Tahun depan secara bertahap kita anggarkan untuk perlengkapannya seperti pelampung, tali pengaman dan pengeras suara, agar pengunjung merasa nyaman,” katanya.

Sementara itu, Perwakilan Basarnas Trenggalek, Imam Nahrowi mengatakan tempat wisata yang berhubungan langsung dengan air atau laut memiliki potensi risiko cukup besar untuk terjadinya sebuah musibah atau kecelakaan.

“Selain sarana-dan prasarana, pelatihan untuk pencegahan juga menjadi prioritas. Karena hal ini meminimalkan risiko musibah,” kata Imam Nahrowi.

Tambah Imam Nahrowi, jika Pokdarwis atau pengelola wisata diberi pelatihan untuk pencegahan, agar bisa memberikan bantuan penanganan ketika ada musibah, maka bisa meminimalisir adanya risiko tersebut.

Disisi lain, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata Kabupaten Tulungagung, Karsi Nerro berharap pemerintah setempat memperhatikan sarana prasarana di setiap tempat wisata alam masih minim.

“Kondisi ini mengurangi kenyamanan, karena pengunjung diliputi rasa was-was. Meski demikian, pihaknya sudah berusaha mengawasi setiap lokasi dengan memberikan papan peringatan,” ujar Karsi Nerro.(ta1)

Keterangan gambar : Tim Basarnas Trenggalek memperagakan teknik penyelamatan.(foto : acta cahyono)