ADAKITANEWS, Kota Madiun – Lomba membaca puisi kerap dijadikan ajang untuk menunjukkan bakat atau prestasi tersendiri bagi para pelajar. Namun, apa jadinya jika yang membaca puisi itu adalah justru orangtua?

=========

Ada pemandangan berbeda di Lapangan Kelurahan Kejuron Kota Madiun, Minggu (20/08) pagi. Di lokasi itu, digelar ajang lomba membaca puisi yang diprakarsai Surip Sasmito.

Mbah Surip, panggilan akrab pria 78 tahun ini adalah pensiunan guru dan terakhir kali tercatat sebagai pengajar di SMAN 3 Madiun. Dan saat ini, ia tinggal di Jalan Anjasmoro Kelurahan Pangongangan Kecamatan Manguharjo Kota Madiun.

Ada tujuh puisi bertema patriotisme yang dibacakan oleh Mbah Surip pagi itu. “Saya sudah sejak tahun 1959 sudah menonjol dalam bidang Sastra,” ucap Mbah Surip kepada Tim Adakitanews.com seusai pembacaan puisi.

Bahkan masih menurut Mbah Surip, pada saat dirinya mengikuti Pendidikan Sekolah Guru, banyak cerpen-cerpen karyanya yang dilombakan dan menjadi pemenang serta mendapatkan hadiah.

Saat mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 3 Madiun, dan jika ada materi puisinya, oleh mbah Surip puisi itu pasti dibaca dan diperdengarkan kepada guru yang lain. Bahkan jika ada kegiatan reuni di SMAN 3 Madiun, Mbah Surip masih sering diundang untuk membacakan puisi-puisi hasil karyanya.

Mbah Surip mengatakan, tujuannya membaca puisi pagi itu adalah untuk menyindir anak sekolah zaman sekarang yang jarang belajar, apalagi membaca. “Saya memberi pesan khusus bagi para pelajar zaman sekarang yang menurut saya masih sangat kurang belajar dan tentunya juga sangat kurang dalam hal membaca buku. Padahal lewat membaca, merupakan sumber utama ilmu pengetahuan,” tuturnya.

Sementara itu koordinator penyelenggara dari Jaringan Pekerja Budaya, Hari Cahyono menyampaikan jika kegiatan yang diberi tema Minggu Budaya Kota Madiun ini ditujukan untuk menonjolkan tokoh-tokoh lokal yang ada di Kota Madiun. Diantaranya hari ini, yakni penyair Kota Madiun, Surip Sasmito.

“Acara ini sebagai sarana menonjolkan tokoh lokal lewat kegiatan budaya. Jika hari ini lewat pembacaan puisi dan tokohnya adalah Mbah Surip, nantinya akan ditampilkan tokoh yang lain dengan penampilan yang berbeda,” urai Hari Cahyono yang juga merupakan penggiat seni di Kota Madiun ini.

Hari mengaku, ada keinginan besar yang ingin ia wujudkan bersama rekan rekannya dari Jaringan Pekerja Seni. Yaitu mewujudkan Kota Madiun sebagai Kampung Halaman Kejujuran.(bud)

Keterangan gambar : Mbah Surip, tokoh penyair dari Kota Madiun.(foto :budiyanto)