ADAKITANEWSf-Pameranf-Pameran 1, Nganjuk – Bertempat di GOR Bung Karno Kelurahan Begadung Kecamatan Nganjuk digelarnya Pameran Batu Nusantara, Jumat (24/4) hingga Senin (27/4) kemarin benar-benar menyedot perhatian pengunjung. Acara yang diselenggarakan berkaitan dengan hari lahir Nganjuk ke 1078 dan dalam rangka membuka khasanah wacana batu di tanah air ini sebagai bukti bahwa Kabupaten Nganjuk memiliki kekayaan alam yang tidak ternilai.

Dalam pameran batu alam kali ini, berbagai jenis batu alam dipamerkan. Di antaranya macam-macam akik dan juga jenis batu fosil binatang menyerupai ikan kakap, fosil kayu jati dan karang. Selain itu, pengunjung juga dikejutkan oleh hadirnya batu fosil pancawarna milik kolektor batu asal Kelurahan Bogo Kecamatan Nganjuk, Suratman.

Batu yang dipamerkan di stand nomor 24 ini diperoleh dari penambang batu di wilayah Desa Tritik Kecamatan Rejoso, secara tidak sengaja. “Baru terlihat keunikan batu pada warnanya setelah dicuci,” ujar Wahab, penjaga stand batu.

Lebih lanjut Wahab menuturkan, untuk batu pancawarna pernah ditawar kolektor dari Jakarta seharga Rp 80 juta. Ada juga kolektor dari Surabaya yang membawa teman sesama kolektor dari Belanda, menawar dengan harga USD 90 ribu. Tapi semuanya ditolak oleh Suratman. Alasannya untuk koleksi pribadi dan hanya untuk kepentingan pameran.

“Semua kami tolak hanya untuk menunjukkan bahwa Nganjuk itu memiliki kekayaan purba yang tak ternilai oleh uang,” ujarnya

Namun, lanjut Wahab, jika ada yang berminat dengan batu yang memiliki keunikan 5 macam warna ini bias saja hanya dengan harga USD 11.000. Syaratnya sang kolektor harus asli Nganjuk dan tidak boleh di jual kepada kolektor luar Nganjuk.

“Karena, batu pancawarna ini merupakan kekayaan alam Nganjuk, maka yang membeli harus asli orang Nganjuk. Bila berminat bisa hubungi mbah Man (panggilan akrab Suratman),” tukasnya.

Salah satu penggemar batu akik yang mengikuti pameran, Kunto Wibisono asal Surabaya, mengaku senang mengikuti pameran ini. Di samping untuk menambah pengetahuan tentang berbagai jenis batu akik, juga dapat menambah teman satu komunitas pecinta batu alam. “Saya sangat berkesan dalam pameran ini, ternyata Nganjuk banyak kolektor batu alam,” katanya.

Sementara, ketua panitia penyelenggara, Suratman mengatakan, pameran batu nusantara ini diikuti oleh kolektor dan penggemar batu alam dari berbagai daerah mulai dari Jawa Timur hingga Kalimantan dan Sumatra. Tujuannya, untuk menggali khasanah berbagai macam batuan yang ada di Indonesia. “Selain itu juga sebagai ajang silaturohmi antar sesama pecinta batu alam dan fosil,” jelasnya.

Selain itu lanjut Suratman panitia sengaja mengadakan acara ini untuk memfasilitasi para pecinta batu alam dan fosil agar lebih berkembang demi melestarikan keaneka ragaman alam.

“Dengan adanya pameran ini dapat mengangkat nilai batu hasil temuan di Nusantara dan inilah hasil karya Tuhan Yang Maha Kuasa, begitu indah dan menakjubkan,” pungkasnya. (Jati/zay).

Keterangan gambar : Batu akik pancawarna yang menjadi kebanggan warga Nganjuk asal Desa Tritik Nganjuk