?

?

ADAKITANEWS, Nganjuk – Dua kali menjalani operasi daging tumbuh, Murdoko,51, pasien Rumah Sakit Kertosono justru  bertambah Parah. Warga RT 02 RW 01 Dusun Desa Trayang Kecamatan Ngronggot  diduga menjadi korban Malpraktek tindakan medis dokter spesialis RSUD Kertosono.

Betapa tidak, pasien BPJS setelah menjalani operasi pengangkatan daging tumbuh yang ditangani oleh dokter spesialis RS Keertosono berinisial ”N” justru daging tumbuhnya semakin membesar.  Ironisnya lelaki dengan benjolan besar ini, kini tergolek lemah menunggu penanganan lebih lanjut dari RS Syaiful Anwar Malang.

Bermula pada bulam Maret silam, bapak beranak dua yang berprofesi sebagai pedagang keliling itu menjalani operasi benjolan daging yang tumbuh pada bagian paha kanan. Proses pengangkatan tahap awal operasi di ruang Bougenvile berjalan mulus tanpa hambatan. Hasilnya benjolan daging sebesar buah apel sudah hilang dan paha kanan pasien bisa pulih seperti sedia kala.

Beberapa bulan kemudian, pasca operasi pertama berselang, benjolan tersebut muncul kembali . Kini ukuran benjolan tersebut cepat membesar dengan ukuran yang lebih besar. Berharap ingin terbebas dari penyakitnya itu , akhirnya pada bulan Mei atau dua bulan berikutnya, Murdoko kembali masuk kamar operasi.

Pada penanganan operasi kedua itu dokter yang menangani berbeda dengan operasi pertama yaitu dokter berinisial ” A ” .

Menurut pengakuan Murdoko,  pada operasi kedua itu dirinya tidak ditangani maksimal oleh sang dokter. Pasalnya benjolan yang sudah berukuran empat kali lipat dari ukuran semula itu oleh dokter hanya diambil sebagian kecil saja untuk bahan uji laboratorium. Tujuannya agar memudahkan pihak medis mengetahui penyakit pasien.

” Operasi kedua dokter tidak mengangkat seluruhnya justru hanya mengambil sebagain kecil saja alasanya untuk bahan uji laboratorium. Sisanya oleh dokter hanya dijahit saja ,” ujar Murdoko (17/11 ).

Yang mengejutkan dirinya, sebagaimana menirukan kata dokter, diketahui hasil pemeriksaan laboratorium bahwa penyakit pasien adalah tumor ganas.  Melihat penyakitnya cukup serius pihak RS mengambil langkah darurat dengan merujuk pasien untuk mencari rumah sakit yang typenya di atas RSUD Kertosono.

Dengan saran dan petunjuk itu , akhirnya keluarga miskin ini menjatuhkan pilihanya ke RS Saiful Anwar Malang.  Pada bulan berikutnya tepatnya pada bulan Agustus kelengkapan administrasi seperti kartu BPJS termasuk surat rujukan dari RSUD Kertosono semuanya dikirim ke pihak managemen RS Saiful Anwar .

Pasca pengiriman berkas itu ternyata Murdoko tidak langsung bisa menjalani perawatan medis seperti yang diharapkan. Hingga kini atau tiga bulan sejak ke RS Saiful Anwar tak juga muncul panggilan dari pihak RS. Setiap kali pihak keluarga mengkonfirmasi ke rumah skit selalu dijawab disuruh menunggu  dengan alasan belum ada kamar.

”Setiap saya menelpon ke nomor bagian resepsionis selalu dijawab suruh menunggu karena kamar rawat masih penuh. Selama empat bulan berjalan jawabannya selalu sama yaitu belum ada kamar ,” papar Sukimah istri Murdoko saat memberi keterangan kepada Tim Adakitanews.com di rumahnya kemarin.

Dengan penantian panjang itu , akhirnya malah memperburuk kondisi kesehatan Murdoko. Daging tumbuh yang semula berukuran sebesar buah semangka. Kini benjolan daging semakin membesar dan memanjang kesamping.

Dengan kondisi itu , Murdoko sudah tidak bisa lagi berjalan keluar dari kamar. Kalaupun bisa harus dipapah oleh sang istri yang setia menemani dan merawat setiap harinya . Mulai dari memandikan, menyuapi makanan dan minum obat semuanya tidak bisa dilakukan sendiri oleh Murdoko. Bapak berbadan kurus tersebut setiap harinya hanya tergolek lemas diatas tempat tidur.

Ditanya harapannya kepada pemerintah , Sukimah bermimpi agar suaminya segera sembuh dari penyakitnya. Karena dia ( suami ,red ) adalah tulang punggung keluarga . ” Saya berharap pemerintah memperhatikan nasib rakyat kecil,” pungkasnya. (Jati)

Keterangan Gambar :  Murdoko,51, diduga korban malpraktek RS Kertosono