ADAKITANEWS, Tulungagung – Kejaksaan Negeri (Kejari) Tulungagung melakukan penahanan terhadap Sekretaris Satpol PP Tulungagung, Asaf Dosuarso, Selasa (12/12) sore. Pejabat ini ditahan, lantaran diduga terlibat kasus korupsi senilai Rp 180 juta.

Pria berusia 51 tahun itu diduga telah melakukan tindak pidana korupsi pengadaan mesin pencacah sampah plastik dan lampu tenaga surya pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tulungagung, pada Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2015 ketika menjabat sebagai Sekretaris BLH.

Penahanan terhadap tersangka dilakukan, setelah sebelumnya ia menjalani pemeriksaan sekitar 4 jam sejak pukul 12.30 WIB. Dari hasil pemeriksaan, tersangka terbukti menyalahgunakan wewenang sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan Penjabat Pengguna Anggaran (PPA) di BLH.

“Untuk tersangka, kita lakukan penahanan. Hal ini untuk keperluan pemeriksaan lanjutan dan menghindari penghilangan barang bukti,” kata Kasi Intel Kejari Tulungagung, Dody Wicaksono, Selasa (12/12).

Dody menyampaikan, dari total anggaran sebesar Rp 180 juta tersebut, dipergunakan untuk pengadaan mesin penghancur limbah plastik senilai Rp 120 juta. Saat ini mesin tersebut mangkrak dan tidak dapat dipergunakan lagi karena tidak sesuai spesifikasinya. Sedangkan untuk pengadaan listrik tenaga surya di wisata alam Telaga Buret di Desa Sawo Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, terdapat anggaran senilai Rp 60 juta yang kondisinya juga tidak dapat difungsikan.

“Tersangka kita titipkan di Lapas Kelas 2B Tulungagung selama 20 hari kedepan. Jika telah cukup bukti, tersangka akan dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya,” ujarnya.

Dody menambahkan, sementara ini yang menjadi tersangka baru satu orang Tapi ia menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain. “Tinggal nanti hasil pengembangan kasus ini bagaimana,” tambah Dody.

Tersangka dijerat dengan Pasal 2 jo 3 jo 9 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara Rudi Iswahyudi, kuasa hukum tersangka, tetap menghormati keputusan Kejari terhadap kliennya yang langsung dilakukan penahanan. “Kami belum melakukan tindakan apapun untuk meringankan kasus yang melibatkan klien kami. Kami harus pelajari dulu kasus ini,” ucap Rudi Iswahyudi.

Diketahui, kasus ini menambah panjang catatan kasus korupsi yang mendera PNS di lingkungan Pemkab Tulungagung. Sebelumnya pihak Kejari juga telah menahan dua tersangka dugaan pungutan liar (pungli) penerimaan peserta didik baru di SMPN 2 Tulungagung. Pada kasus tersebut Kejari menetapkan Rudy Bastomi, 44, warga Desa/Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung selaku Waka Kesiswaan SMPN 2 Tulungagung sekaligus Ketua Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dan Supratiningsih, 56, warga Desa Ketanon RT 3/RW 4 Kecamatan Kedungwaru yang merupakan guru kelas SMPN 2 Tulungagung sekaligus Koordinator operasional dalam susunan ke panitia penerimaan peserta didik baru.(ta1)

Keterangan gambar : Asaf Dosuarso (baju batik) usai menjalani pemeriksaan di Kejari Tulungagung.(ist)