ADAKITANEWS, Tulungagung – Aris Febriansyah, 30, warga Lingkungan/Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung memperagakan adegan demi adegan rekonstruksi kasus penganiayaan dan terbunuhnya balita Hanung, yang masih berusia dua tahun asal Desa Waung Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, Kamis (04/01). Pria pengangguran ini tega memukul beberapa bagian tubuh korban kemudian membenturkan kepala korban ke lantai hingga tewas.

Rekonstruksi pembunuhan ini digelar polisi di tempat kejadian perkara di Pasar Ngemplak Tulungagung, tepatnya di warung milik Katinah alias Wati, ibu korban, dan warung milik Joko, yang lokasinya hanya sekitar 25 meter dari lokasi pertama.

Ada 40 adegan yang diperagakan Aris Febriansyah. Mulai dari saat ia berada di warung Katinah, sampai adegan yang ke-40 yakni proses evakuasi korban ke rumah sakit.

Dalam adegan itu didapatkan gambaran bagaimana sadisnya pelaku melakukan penganiayaan terhadap korban. “Rekonstruksi ini memperangakan 40 adegan. Tindakan pelaku yang mengakibatkan korban hingga tewas, terekam dalam adegan 14 dan 15,” kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Mustijat Priyambodo, Kamis (04/01).

AKP Mustijat Priyambodo menyampaikan, ada temuan baru yang sebelumnya tidak disampaikan tersangka ketika proses pemberkasan. Temuan baru dalam rekonstruksi tersebut, yaitu tersangka sempat menampar korban usai membenturkan kepala korban ke lantai.

“Tamparan tersangka mengakibatkan bibir korban pecah serta mengeluarkan darah. Darah tersebut oleh tersangka dibersihkan dengan tanggannya, kemudian diusapkan ke kaus tersangka,” lanjut Mustijat.

Sebelum tersangka melakukan penganiayaan, korban digendong dari warung ibunya, kemudian diajak tidur di warung lesehan milik Joko. Karena korban menangis, tersangka menjadikan tangan kirinya untuk bantal. Saat itu, Hanung masih rewel hingga membuat Aris kesal dan memukul bagian perut Hanung.

Dalam kondisi tersebut, Aris yang telah kalap membenturkan kepala korban bagian belakang ke lantai sebanyak tiga kali. “Untuk mengetahui kepastian penyebab kematian korban, kita masih menunggu hasil Puslabfor Polda Jatim,” tandasnya.

Soal motif Aris melakukan penganiayaan hingga menyebabkan kematian tersebut, AKP Mustijat menyanggah bahwa berlatarbelakang dendam asmara. “Kasus ini murni karena tersangka kesal terhadap korban yang tidak berhenti menangis, kemudian melakukan tindak kekerasan,” ujar Mustijat.

Hal ini dikuatkan pengakuan Katinah, ibu korban bahwa antara dirinya dengan Aris tidak ada hubungan asmara. “Saya tidak menyangka dia (Aris,red) sampai setega itu terhadap anak saya. Saya tidak terima, saya minta dia dihukum seberat-beratnya, kalau perlu dihukum mati,” kata Katinah sambil menangis, usai rekonstruksi.

Menurut penuturan Katinah, awalnya dia hanya kasihan saja melihat kondisi Aris, yang tidak punya pekerjaan. Untuk keperluan makan, sehari-hari Aris makan di warung milik Katinah. Karena tidak mempunyai penghasilan, sebagai balasannya, Aris menawarkan diri untuk menjaga Hanung.

Karena itu, Katinah tidak menaruh curiga ketika sebelum peristiwa penganiayaan tersebut, Aris mengajak Hanung untuk tidur di warung milik Joko, pada Rabu (27/12) pagi hari.

Saat bersama Aris tersebut, kondisi Hanung dalam keadaan tak sadarkan diri dan terdapat sejumlah lebam serta bagian bibir mengeluarkan darah. Korban sempat dibawa ke rumah sakit namun jiwanya tak terselamatkan. Setelah dinyatakan meninggal, Hanungpun dimakamkan di makam Desa Waung, Kecamatan Boyolangu.

Kepada keluarga korban, saat itu Aris beralasan bahwa, luka yang ada di tubuh Hanung, akibat tertimpa meja warung. Hingga akhirnya polisi mengungkap pengakuan tersangka bahwa luka tersebut akibat penganiayaan yang dia lakukan.(bac)

Keterangan gambar : Aris Febriansyah saat menjalani proses rekonstruksi.(foto : acta cahyono)