Pemkot Blitar Ancam Polisikan Warganya

ADAKITANEWS, Kota Blitar – Puluhan warga Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar terus melakukan perlawanan terkait rencana Pemerintah Kota Blitar yang akan membangun SMP Negeri 3, Kamis (27/04).

Kali ini, warga kembali memasang spanduk agar Pemkot Blitar menghentikan rencana pembangunan di area persawahan di Jalan Ciliwung Kelurahan Tanggung tersebut.

Aksi penolakan pembangunan SMP Negeri 3 oleh puluhan warga penggarap lahan persawahan tersebut bukan tanpa alasan. Seperti diungkapkan salah satu petani penggarap, Kusrianto, 65, bahwa lahan yang rencananya akan digunakan itu merupakan area persawahan produktif yang saat ini masih digarap oleh sekitar 40 petani.

Menurutnya, lahan persawahan seluas hampir tiga hektare tersebut, merupakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), yang dilindungi Undang-Undang Nomot 41 Tahun 2009, dimana dalam satu kali masa panen rata-rata didapatkan hasil sebanyak 12 ton padi.

“Kita tidak menentang adanya pembangunan di Kota Blitar. Namun jangan di lahan yang masih produktif seperti ini. Kan masih banyak lahan lain. Apalagi ini adalah satu-satunya mata pencaharian kami,” kata Kusrianto, Kamis (27/04).

Kusrianto mengaku, dirinya bersama warga sudah tiga kali menolak rencana pembangunan oleh Pemkot Blitar di lokasi tersebut. Diantaranya seperti rencana pembangunan Rusunawa, Autis Centre, dan yang terakhir rencana pembangunan SMPN 3.

Untuk itu ia berharap agar Pemkot mempertimbangkan dan mengkaji kembali rencananya dan mengurungkan rencana pembangunan di lokasi tersebut. “Jangan hanya karena letaknya strategis lalu mau dilakukan pembangunan. Padahal hal itu melawan peraturan perundang-undangan. Kami minta Pemkot mencari tempat lain,” tegasnya.

Sementara itu, Walikota Blitar Samanhudi Anwar menegaskan, jika lahan tersebut adalah aset Pemkot. Sedangkan selama ini petani yang menggarap lahan persawahan itu hanya memanfaatkannya saja. Bahkan kata Samanhudi, pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi dan menjelaskan kepada warga jika lahan tersebut sudah tidak produktif dan kuning.

Lebih dari itu, pembangunan SMP Negeri 3 di lahan tersebut dirasa sangat penting dan harus dilakukan secepatnya. Selain untuk memaksimalkan proses belajar mengajar, pemindahan SMP Negeri 3 dari komplek monumen PETA di jalan Soeprijadi juga untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi disana.

“Tujuannya jelas untuk pendidikan, dan itu adalah aset Pemkot yang bisa sewaktu-waktu kita ambil jika dibutuhkan,” papar Samanhudi, Kamis (27/04).

Samanhudi menegaskan, pihaknya tidak akan segan untuk melaporkan warga ke polisi karena menyerobot tanah. Terutama jika warga tetap ngotot untuk menghalangi proses pembangunan. “Jika hari ini tetap ngotot menghalang-halangi besok saya akan perintahkan bagian hukum untuk laporkan polisi,” tandasnya.

Untuk diketahui, simbol penolakan dengan memasang baliho di area perswahan tidak hanya dilakukan kaum lelaki, tetapi juga ibu-ibu.(blt2)

Keterangan gambar: Suasana warga Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar saat memasang baliho penolakan.(foto : fathan)

Recommended For You