?

?

ADAKITANEWS Nganjuk Setelah menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo Surabaya selama 2 hari, akhirnya nyawa Murdoko, 51, penyandang tumor ganas yang bersarang di paha kanannya, akhirnya meninggal dunia.

“Selasa sore saya dan pak Wakapolres menjenguknya, Rabu pagi sekitar jam tiga, Murdoko saya berangkatkan ke RSUD Dr Soetomo Surabaya,” ujar siswa Sekolah Alih Golongan (SAG) Polri, Aiptu Nanik Yuliati, Minggu (22/11)..

Aiptu Nanik Yuliani, adalah orang yang ditunjuk Polres Nganjuk untuk memberangkatkan Murdoko,, warga RT 02/RW 01 Dusun Payaman Desa Trayang Kecamatan Ngronggot, ke RS dr Soetomo Surabaya, setelah kondisi semakin memburuk, menyusul terlambatnya penanganan pihak rumah sakit di Malang yang menjanjikan akan memberikan penanganan.

Mengetahui kondisi Murdoko yang semakin mengkhawatirkan itu, pada Selasa sore, (17/11), Wakapolres Nganjuk, Kompol Rachmat Sumekar bersama dengan peraih penghargaan dari MNC Media Group sebagai ‘Pahlawan untuk Indonesia bidang Pelayanan Publik’, Aiptu Nanik Yuliati menjenguk keadaan Murdoko yang terbaring lemas di rumah.

Sesampainya di RSUD Dr Soetomo, Murdoko langsung menjalani perawatan. Saat itu, kondisi Murdoko memang sudah parah. Tumor ganasnya sudah menjalar dan menggerogoti paru-paru serta jantungnya. “Murdoko sempat menjalani perawatan dua hari, sebelum dia dipanggil Tuhan,” kata Aiptu Nanik.

Sayangnya, Murdoko keburu dipanggil Tuhan setelah Polres Nganjuk bertindak dan membawanya ke RSUD Dr Soetomo. Mungkin, jika Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Nganjuk tanggap, Murdoko sudah sejak dulu dirujuk ke RSUD Dr Soetomo dan bukan polisi yang bertindak. Namun, pihak Dinkes lebih mementingkan acara hura-hura untuk memperingati ulang tahunnya.

Sebagaimana diberitakan adakitanews.com sebelumnya, Murdoko  telah menjalani operasi selama dua kali di RSUD Kertosono. Namun setelah dioperasi, benjolan daging yang ada pada paha kanannnya bukannya sembuh, tetap malah tumbuh kembali. Akhirnya dia menjalani operasi yang kedua di rumah sakit yang sama dengan ditangani oleh dokter yang berbeda.

?

?

Proses pengangkatan daging tumbuh pada paha kanan, pasien BPJS ini kali pertama dilakukan oleh tim medis RSUD Kertosono pada bulan Maret silam. Awalnya, proses pengangkatan tahap awal operasi di ruang Bougenfile itu berjalan mulus tanpa hambatan.

Akhirnya, dua bulan berikutnya Murdoko berinisiatif untuk melakukan operasi yang kedua kalinya. Pada operasi yang kedua, dokternya beda, bukan dokter yang dulu saat operasi pertama, pada operasi kedua dokter tidak mengangkat seluruhnya namun hanya diambil sedikit untuk bahan uji laboratorium.

Setelah dilakukan uji laboratorium, hasilnya menunjukkan bahwa benjolan itu ternyata tumor ganas. Selanjutnya, pihak rumah sakit langsung mengambil langkah darurat dengan memunculkan surat rujukan untuk mencari rumah sakit yang typenya di atas RSUD Kertosono. Maka, dipilihlah Rumah Sakit Saiful Anwar Malang dan disarankan untuk pengurusan BPJS, termasuk surat rujukan dari RSUD Kertosono.

Setelah semua kelengkapan administrasi terpenuhi, Murdoko tidak serta merta langsung ditangani. Karena harus menunggu panggilan dari RS Saiful Anwar. Bahkan, hampir berjalan empat bulan, juga tak kunjung dipanggil untuk diperiksa. Setiap kali pihak keluarga mengkonfirmasi pihak rumah sakit, selalu dijawab suruh menunggu, alasannya belum ada kamar.

Dengan tidak segera ditangani oleh pihak rumah sakit, akibatnya malah memperburuk kondisi kesehatan Murdoko. Daging tumbuh yang semula berukuran sebesar buah semangka, semakin membesar dan memanjang ke samping. Dengan kondisi itu, Murdoko sudah tidak bisa lagi berjalan keluar dari kamar. Jikalau ingin keluar, istri setianya, Sukimah  yang membantunya. (Jati)

Keterangan Gambar : Murdoko, 55,  penderita tumor ganas meninggal dunia, setelah lama menunggu penanganan pihak rumah sakit.