ADAKITANEWS, Blitar – Polos dan apa adanya. Begitulah keseharian dari M Aqshal Prasetya. Seorang anak yang baru duduk di bangku kelas dua SDN Kalipang 1 ini, ceria bermain selayaknya bocah seusianya. Namun, yang membedakan dalam aktivitas kesehariannya dengan anak lainnya adalah karena dia harus menggunakan alat bantu pendengaran.

=========

Aqshal, sapaan akrabnya, merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK). Meski demikian, pola pikir dan kecerdasan Aqshal tidak kalah dengan anak normal lainnya. Buktinya, Aqshal mampu mengungguli anak tak berkebutuhan khusus (ATBK) dalam kompetisi lego se-Eks Karesidenan Kediri, dengan menyabet gelar The Best Construction Level A. Padahal diketahui, tidak mudah mengikuti kompetisi lego konstruksi, dengan menggunakan peralatan yang sebelumnya tidak pernah dimainkan.

Aqshal, tinggal di Kelurahan Kalipang Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Sekilas pada diri Aqshal memang terlihat tidak ada masalah atau kendala dalam berkomunikasi. Hanya alat bantu pendengaran yang terpasang di kedua telinganya, yang membuat Aqshal terlihat berbeda. Memang, dengan alat tersebutlah Aqshal bisa lancar berkomunikasi.

Aqshal mengaku sangat menyukai lego. Itulah yang bisa membuatnya menjadi pemenang dalam kompetisi lego. “Tidak ada persiapan khusus. Memang ini hobi saya,” kata anak berusia 8 tahun ini.

Sementara ibunda Aqshal, Yeni Aristasari menjelaskan, kompetisi lego yang diikuti anaknya memang tergolong sulit. Karena harus membuat konstruksi bangunan bergerak. Sebelum menata bangunan mainan, peserta harus merakit sendiri mobil atau robot untuk menata bangunan.

“Saat itu ditarget waktu. Jadi dibutuhkan ketepatan waktu, ketenangan, kecekatan, dan kecerdasan. Dan Aqshal yang merupakan ABK ternyata tidak minder bersaing,” tutur Yeni Aristasari.

Perempuan berjilbab ini menceritakan, hampir setiap hari Aqshal suka memainkan lego bongkar. Bahkan, sejak kecil atau sebelum masuk ke dunia pendidikan sudah sangat tergila-gila dengan lego.

Saking seringnya memainkan lego, Aqshal pandai menggambar desain mobil berbentuk 3 dimensi. Tidak hanya itu, menurut Yeni, daya imajinasi putra tunggalnya itu cukup tinggi. Saat ini ada beberapa komik yang telah dibuat Aqshal. Komik tersebut dibuat ketika mengisi waktu kosong. Tidak heran jika Yeni berpendapat jika kemampuan Aqshal tidak berbeda dengan ATBK.

“Saya takjub dengan karya dia dan prestasinya. Memang ABK yang dididik dengan benar dan terus diasah kemampuannya, akan memiliki kemampuan yang sama dengan ATBK. Bahkan bisa di atas rata-rata anak normal,” ungkapnya.

Untuk itu, Yeni berharap agar pendidik atau orang tua bisa memberikan perhatian lebih tanpa harus mengabaikan atau menganggap ABK sebagai anak yang terbelakang. Menurutnya, saat ini masih ada beberapa orang yang masih menganggap ABK anak yang tidak berarti. Sebab, masih ada beberapa pendidik yang masih bersikap seperti itu kepada ABK, yakni menempatkan ABK duduk di bangku paling belakang saat di ruang kelas.

“Saya sangat prihatin atas sikap pendidik yang masih menganggap ABK tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah normal atau non sekolah luar biasa (SLB),” imbuhnya.(fat/wir)

Keterangan gambar: Aqshal (kanan) mengikuti lomba lego dengan peserta anak tak berkebutuhan khusus (ATBK) beberapa waktu lalu.(ist)