Pungli Retribusi Terminal Truk Guyangan, Akibatkan Kebocoran PAD Hingga Ratusan Juta

PUNGLI RETRIBUSI 8ADAKTANEWS Nganjuk – Potensi pendapatan retribusi di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dihubkominfo) Nganjuk bocor. Hal tersebut menyusul praktik pungutan liar (Pungli) retrebusi di terminal Guyangan. Dari tarif resmi Rp 200, truk di patok tarif Rp 1000. Sehingga sebanyak Rp. 800, sisanya dipastikan menguap tidak masuk di Kas Daerah.

Praktik pungli yang disiyalir telah dilakukan sejak lama dan sistematis itu dibuktikan langsung oleh anggota Komisi B DPRD Kabupaten Nganjuk, Raditya Hariya Yuangga politisi dari Partai Hanura ini menyamar sebagai kenek truk untuk mengecek langsung informasi yang di terima dari masarakat.

“Teryata benar antara yang harus dibayar dan yang dibayarkan sopir-sopir truk itu tidak sesuai”, Terang Angga saat ditemui di Terminal Guyangaan.

Angga melewati Terminal Guyangan dengan truk miliknya. Saat sang sopir membayar, anak salah satu tokoh masarak di Kabupaten Nganjuk Suratman, ini merekam dengan menggunakan kamera handphoneya. Dapat tergambarkan dengan jelas saat sopir membayar dengan menggukan uang Rp. 2000, – dan kemudian hanya diberi kembalaian Rp. 1000.PUNGLI RETRIBUSI 6

Kala itu, angga sempat menanyakan kembalian terkait kembalian sebesar Rp. 800,- Sisanya, tetapi petugas uang melakukan pemungutan retrebusi hanya membalas dengan anggukan kepala saja. Praktik demikiàn ini menurut Angga tidak dapat dibenarkan. Sebab menurut Perda Nomer 7 tahun 2011 tentang retribusi tarif sekali lewat di jalur ini adalah Rp 200.

“Diberi Rp 2000,- kembaliannya Rp 1000,-. Sudah sangat sering itu seperti ini. Harusnya Rp. 800′- kembaliannya,” Lanjutnya.
Apalagi sang petugas juga tidak menyerahkan karcis retribusi yang berwarna putih. Melainkan menyerahkan karcis parkir berwarna kuning dengan tarif Rp 2.000, padahal karcis itu hanya di pergunakan untuk truk yang sedang parkir disana.
“Harusnya yang putih dong. Ngak benar ini,” ujarnya.

Dengan sistem seperti ini Angga mejelaskan bahwa pendapatan dari Terminal Truk Guyangan di perediksi mengalami kebocoran yang cukup besar. Berdasarkan data yang ia miliki, tiap hari ada sekitar 2.500, truk yang melintas Terminal Guyangan.

Jika seluruh truk tersebut diminta membayar retribusi sebesar Rp. 1000,- setidaknya ada dana retribusi sebesar Rp 2 Juta tiap harinya yang masuk ke kantong oknum. Selama ini, terang Angga lebih lanjut, target pendapatan retrebusi di Terminal Guyangan relatif minim, yakni Rp 131 Juta Pertahun.

Padahal, dengan tarif retribusi yang di patok Rp. 1000,- potensi pendapatan yang didapat bisa naik hingga delapan kali lipat. “Kalau per tahunya bisa mencapai Rp 700 juta hingga Rp 800 Juta per tahun. Tetapi hanya ditargetkan Rp. 131 juta itu kan aneh” Paparnya.

Lebih jauh Angga mengatakan sebelumnya DPRD sudah melakukan pemanggilan dan mengingatkan tentang praktik ini. Namun saat Angga melakukan pengecekan secara langsung kondisinya masih tetap sama. “harus dibenahi yang seperti ini,” Tegasnya.

Sementara itu Kabid angkutan Nur Banra saat dikonfirmasi terkait temuan praktik pungli yang ditemukan salah satu anggota DPRD mengatakan pihaknya akan segera melakukan evaluasi. “Adanya kesalahan di lapangan terkait personil akan kami lakukan evaluasi,” Ujarnya.

Dengan potensi yang yang cukup besar, apakah ada uang yang mengalir ke Dinas? Nur Banra membantah. Menurutnya ini terjadi kesalahan prosedur di lapangan. Karena itu tak hanya memproses disiplin pegawai, ia juga akan melakukan pembenahan sistem . “Semua akan kami benahi,” tandasnya.

Tambah Banra menurutnya, ini merupakan ulah oknum. Banra berencana dalam waktu dekat akan memberikan sangsi, jika ada yang melakukan kesalahan. “Masih saja ada oknum yang begitu. Jelas ada sangsi”, Ujarnya.

Banra mengatakan, saat ini pihaknya fokus pada pembenahahan infrastruktur, perhubungan dan angkutan. Rupanya dari sumberdaya manusia, masih diperlukan melakukan pembinaan. “Akan segera kami bina,” Tandasnya.( Jati)

Keterangan Gambar : Karcis yang seharusnya warna kuning namun yang diterima supir truk warna putih. Adaa selisih Rp.800 per kendaraan.

Recommended For You