ADAKITANEWS, Nganjuk – Selama bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri rupanya menjadi rezeki tersendiri bagi pengusaha jilbab di Kabupaten Nganjuk. Selain omzet yang naik dua kali lipat dari bulan biasanya, banjir pesanan juga mewajibkan mereka menyisihkan lebih banyak waktu untuk bekerja menyelesaikan garapan.

=========

Seperti yang dialami Nurul Khotimah, 41, warga Desa/Kecamatan Tanjunganom akhir-akhir ini. Saat dikunjungi Tim Adakitanews.com di rumahnya, perempuan kelahiran 7 Mei 1975 ini tengah sibuk memotong dan menjahit kain yang hendak dijadikan jilbab. Dia mengungkapkan, jika bulan seperti ini merupakan rezeki baginya, sehingga harus mengorbankan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pesanan.

“Bulan seperti ini merupakan musim rezeki untuk pengusaha seperti kami. Karena itu harus mengorbankan lebih banyak waktu agar waktu pengerjaan pesanan tidak melebihi batas waktu pemesan,” ungkapnya.

Nurul mengatakan, menjelang lebaran ini pesanan jilbab dari luar atau yang dia sebut dengan job non haji mencapai 450 jilbab. Padahal jika di bulan biasa jumlah pesanan yang dia garap dalam sebulan maksimal hanya sekitar 200 biji.

Untuk menyelesaikan seluruh pesanan jilbabnya, Nurul dibantu oleh 3 orang karyawan. Namun dia lebih memilih mengirim bahan jilbab ke rumah karyawannya karena dianggap lebih efektif. “Saya lebih memilih mengantar bahan ke rumah karyawan karena hasil dan jumlahnya lebih efisien daripada digarap di sini,” jelasnya.

Terkait usaha yang digeluti selama 3 tahun ini, Nurul mengatakan jika hasil yang dia dapat cukup lumayan. Dalam bulan biasa, rata-rata penghasilan yang dia hasilkan berkisar antara Rp 2 juta. Kendati demikian, usahanya sulit untuk berkembang lantaran sering terkendala permodalan, sehingga kesulitan merekrut lebih banyak karyawan.

Nurul sangat menyayangkan kebijakan pemerintah setempat yang kurang peka terhadap kondisi pengusaha kecil seperti dia. Padahal dengan campur tangan serta bantuan dari pemerintah, Nurul yakin usahanya bisa berkembang lebih besar lagi. “Kami sebenarnya mengharap bantuan pemda setempat agar usaha kami lebih besar lagi,” pungkasnya.

Sementara itu Leny Setyo Prihandini, 25 tahun warga Begasur Kabupaten Jombang yang menjadi pelanggan tetap jilbab buatan Nurul mengatakan, senang dengan produk buatan warga Tanjunganom tersebut lantaran memiliki kualitas bagus, lebih teliti, serta bisa menyelesaikan pesanan tepat waktu. “Saya lebih senang pesan di sini, pengerjaannya bagus dan teliti, juga tepat waktu,” ujar Leny.

Leny mengaku sengaja memesan jilbab tersebut untuk persiapan memberikan THR (Tunjangan Hari Raya) bagi karyawanya. Bagi Leny pengrajin jilbab seperti Nurul memang sangat perlu untuk dibantu dan diberikan pembinaan oleh pemerintah agar bisa memajukan usaha rumahannya.(Bagus Jatikusumo)

Keterangan Gambar : Penjualan Jilbab naik dua kali ipat lebih menjelang Hari Raya Idul Fitri