AdaKitaNews Gaya Hidup Raska dan Elsa Si Bocah Terminal Nganjuk

Raska dan Elsa Si Bocah Terminal Nganjuk

ADAKITANEWSLoceret-20150207-01378Loceret-20150207-01375, Nganjuk – Di usianya yang belum genap 7 dan 6 tahun, kedua bocah itu setiap malam harus bergelut dengan dinginnya lantai terminal Nganjuk. Hanya beralaskan kardus bekas dan selimut plastik, kedua bocah ingusan itu menghabiskan malam -malamnya di terminal.

Jangankan untuk dapat menikmati bangku sekolah dan masa kanak-kanak, untuk mendapatkan nasi setiap hari saja, keduanya harus mendapat iba dari saudaranya. Acap kali, keduanya terpaksa tidak menemukan pengganjal perut lantaran seharian harus membantu bapaknya berkeliling memungut sampah botol plastik bekas minuman.

Kedua bocah itu buah hati Saijan,60, duda asal lingkungan Kendal, Kelurahan Kramat, Kecamatan Kota Nganjuk. Saijan mengaku sudah tinggal di terminal Nganjuk semenjak sang istri yang juga ibu kedua anaknya meninggal dunia. Lantaran, dirinya sudah tidak kuat lagi mengontrak rumah sebagai tempat tinggal.

“Sekitar 2 tahun lalu saya dan dua bocah ini tidur diterminal. Sejak ibunya anak-anak meninggal. Untuk kontrak rumah sudah tidak kuat lagi. Masalahnya, semakin tahun semakin mahal,” tutur Saijan.

Saijan mengaku, pernah ditawari salah seorang saudara untuk tinggal di rumahnya. Namun dia mengaku tidak enak karena menjadi beban saudaranya. “Sebenarnya saya disuruh tidur di rumah saudara saya, tapi karena anak-anak tidak kerasan maka terpaksa saya ajak tidur di terminal. Anak saudara saya juga banyak, gak enak sama saudara” jelas Saijan.

Duda beranak dua ini mengaku sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai hidup kedua anaknya. Pasalnya, penghasilannya sebagai pemulung sudah tidak lagi cukup untuk dapat membelikan makanan, terlebih menyekolahkan kedua buah hatinya.

Pengasilanya sebagai pemulung yang hanya Rp10.000- Rp.15.000, diakuinya hanya cukup untuk membelikan jajan kedua anaknya. Sementara untuk kebutuhan makan dua bocah itu, Saijan meminta bantuan saudaranya.

“Bagaimana lagi, dari pada anak saya kelaparan, biar malu tetap saja saya jalani. Saya minta makanan saudara saya. Terkadang seharian tidak mendapatkan makanan, karena harus ikut saya keliling mencari botol plastik bekas minuman,” ungkapnya.

Dia berharap kedua buah hatinya dapat dimasukan ke salah satu panti asuhan. Meski mengaku dalam hatinya berat berpisah dengan keduanya, namun demi kebaikan keduanya dia rela melepasnya.

“Bukan saya tega pada anak saya sendiri, tapi bisa dilihat bagaimana kehidupan saya. Rumah saja tidak punya. Saya malu sebenarnya, jika terus-terusan minta pada saudara,” tutur Saijan sambil meneteskan air mata.

Saijan mengaku sangat sedih saat musim penghujan, dimana anak-anaknya tidak dapat tidur dengan nyenyak lantaran kedinginan dan terkena tampias air hujan. Hal itu yang membulatkan tekadnya untuk dapat menyerahkan anaknya ke panti asuhan.

“Saya sudah tidak tega lagi melihat kondisi anak saya. Makanya saya berharap kedua anak saya bisa masuk pati asuhan. Supaya kehidupannya lebih baik,” pungkasnya. (jati).