RSUD dr Iskak Tulungagung Rawat Dua Pasien Difteri

732

ADAKITANEWS, Tulungagung – Memasuki minggu kedua bulan Desember ini, RSUD dr Iskak Tulungagung telah menerima dua pasien terjangkit difteri.

Satu pasien tersebut berasal dari Kediri, dan satu lagi berasal dari Tulungagung. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan klinis terhadap kedua pasien yang terdapat membran berwarna putih pada tenggorokan.

“Ada dua pasien yang dirawat semua masih berusia anak-anak. Satu berumur 6 tahun dan 3 tahun. Keduanya masuk kategori difteri klinis, karena setelah diuji laboratorium ternyata positif,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Perawatan dr Zuhrotul Aini, SP A, Selasa (12/12).

Saat ini, lanjut dr Aini, pasien mendapat perawatan di ruang isolasi Instalasi Rawat Inap Wijaya Kusuma RSUD dr Iskak. Pasien atas nama M Koirul Azam, 6, asal Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, masuk di RSUD dr Iskak pada 1 Desember lalu, dan 10 hari kemudian atau tanggal 11, sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan Aryasatya Raditya, 3, asal Kecamatan Sumber Kabupaten Tulungagung, diperkirakan pada Rabu (13/12) besok sudah diperbolehkan pulang, setelah menjalani perawatan selama 6 hari.

“Semua kondisi pasien sudah baik. Tenggorokannya sudah bersih, tidak terlihat membran berwarna putih,” ujar dokter Aini, yang menangani kedua pasien tersebut.

Meski demikian, pihaknya tidak serta merta melepas pasien difteri begitu saja. Pihaknya selalu melakukan pemantauan dan perawatan intensif agar penyakit tersebut tidak menular ke pihak keluarga dan kerabat dekatnya.

Dokter Aini menyatakan, pasien yang sudah terkena difteri tidak bisa ditangani lagi dengan vaksin. Pasien tersebut harus diberikan Anti-Difteri Serum (ADS) dan anti biotik. Difteri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri corynebacterium diphteriae. Penyakit ini bersifat mematikan yang menular melalui udara. Jika ada yang mengalami gejala difteri, seperti panas tinggi, batuk dan mengalami nyeri pada tenggorokan, serta timbul warna membran selaput putih pada tenggorokan, seperti sariawan, serta kalau tidur mengorok, maka penderita disarankan segera mendapatkan pertolongan medis.

Penyakit difteri bisa dicegah dengan pemberian imunisasi sampai tiga kali. Namun, hal itu hanya cukup untuk 18 bulan lamanya. Artinya, pada 18 bulan keatas, harus melakukan pengulangan imunisasi. Pemberian yang ke-4 adalah pada usia 18-24 bulan dan pemberian yang terakhir pada usia 5 tahun. Dosis yang diberikan yakni satu kali suntikan setiap jadwal imunisasi. Setelahnya, dianjurkan untuk melakukan booster TD (imunisasi ulang Tetanus Difteri) tiap 10 tahun.(ta1)

Keterangan gambar : Pasien difteri sedang menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr. Iskak Tulungagung.(foto : acta cahyono)