Sebanyak 5 Sekolah Di Nganjuk Tergusur Proyek Tol Trans Jawa

@dakitanews Nganjuk – Dari lima SDN di Nganjuk yang terkena proyek pembangunan jalan Tol Trans Jawa, hanya satu SDN yang pasti akan selesai pembangunannya dan proses ganti rugnya. Sedangkan empat SDN lainnya masih belum jelas kapan pembangunan dan proses pembebasannya.

Sony Herdiyanto, Kepala Bidang (Kabid) TK, SD dan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Disdikporada Nganjuk menyampaikan, satu sekolah yang sudah selesai proses ganti ruginya adalah SDN Balongpacul, Kecamatan Nganjuk. Sedangkan empat sekolah lainnya yang hingga kini belum jelas nasibnya di antaranya SDN Sambirejo 2, Kecamatan Tanjunganom, SDN Kemlokolegi, Kecamatan Baron, TK Pembina Kecamatan Baron, dan SDN Kedungsoko, Kecamatan Sukomoro.

Pembangunan kelima sekolah tersebut, rata-rata menelan anggaran diatas Rp 2 miliar. Hanya satu satu sekolah yang dianggarkan di bawah Rp 1 miliar, yakni SDN Kedungsoko, Kecamatan sukomoro. “Tapi yang sudah berjalan baru satu sekolah (SDN Balongpacul,Red) sedangkan lainnya tahun depan,” terang Sony ditemui di ruang kerjanya.

Lebih lanjut Sony menjelskan, Pembangunan SDN Balongpacul sudah berjalan sejak 16 September lalu dengan nilai anggaran Rp 2,4 miliar lebih. Sekolah yang sedang berjalan tersebut terdiri dari 6 ruang kelas baru, ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan, ruang guru, dan satu sekolah TK.

Diperkirakan akhir bulan tahun ini, seluruh pekerjaan sudah tuntas. Hanya pihaknya belum tahu pasti kapan sekolah yang baru dibangun tersebut dapat ditempati untuk kegiatan belajar mengajar dari para siswa sekolah lama.“Menunggu penyarahan lebih dulu dari pihak rekanan,” ujarnya.

Pengamatan @dakita News, pembangunan SDN Balongpacul tampak dikebut. Bahkan kondisi bangunan tembok dan pagar keliling sudah hampir selesai setelah dikerjakan selama sebulan. Hanya belum menyentuh pekerjaan plester, teras dan atap. Sementara, pagar sisi Utara juga belum dibangun, sebatas bangunan pondasi.

Informasi yang dihimpun @dakitanews.com, selama pekerjaan berlangsung, sempat terjadi musibah kecil, yakni pagar sisi selatan terjadi ambrol hingga beberapa meter. Menurut keterangan sejumlah pekerja, itu dipicu kondisi bangunan kurang kuat. Selain kondisi tembok pagar terlalu tinggi, adonan lumpur juga tidak berkualitas. “Kalau semennya kurang, bagaimana bangunan bisa kuat, kena getaran sedikit saja pasti ambrol,” terang salah satu pekerja asal Desa Balongpacul saat itu.

Akibat bocornya kualitas bangunan yang tidak sesuai dengan spesifikasi bangunan, menelan korban para pekerja. Semua pekerja asal Desa Balongpacul dipecat. Dengan alasan, mereka telah membocorkan informasi ke wartawan telah terjadi kerusakan pada bangunan.

Disinggung tembok pagar yang sempat ambruk, Ahmad Sawali, 50, mandor proyek SDN Balongpacul dengan tegas membantah. Justru dia marah-marah sewaktu @dakitanews.com menanyakan kualitas bangunan yang jelek hingga menyebabkan sebagian bangunan ambrol sebelum selesai dikerjakan.

Sawali balik bertanya, siapa pekerja yang berani memberikan laporan yang menurutnya mengada-ada tersebut. “Siapa yang bilang kalau ada tembok yang ambrol, saudara jangan memancing-mancing kemarahan saya, informasi itu tidak benar sama sekali,” bantahnya. (jati)

Keterangan Gambar :

Recommended For You