width=

ADAKITANEWS, Sidoarjo – Sebelum dideportasi, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya masih akan melakukan pendalaman terkait kemungkinan adanya pelanggaran pidana yang dilakukan oleh 2 Warga Negara Asing (WNA) yang diamankan, Kamis (07/04) di sebuah tempat Les Bahasa Inggris, Everest Educational Course di Perumahan Taman Candi Loka F1 nomor 1 RT 5 RW 5 Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo.

Kedua WNA tersebut yakni Amirhossein Mohammadi, 30, asal Iran dan Maisam Ahmadi, 25, asal Afghanistan. Mereka kini masih berada di ruang khusus Kantor Imigrasi Kelas I Surabaya bersama 1 WNA lain asal Taiwan, Chen Kuo Cheng, 37 yang juga diamankan pada Kamis (07/08) dari Blitar.

Kabid Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya, Romi Yudianto mengatakan pihaknya kini masih akan berkonsultasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendalami kemungkinan adanya tindak pidana yang dilakukan oleh ketiga WNA tersebut sebelum akhirnya mereka dipulangkan atau dideportasi. “Kami akan dalami dulu sebelum dideportasi,” ujar Romi saat diwawancarai Tim Adakitanews.com di ruangannya, Jumat (08/04).

Diketahui, WNA asal Iran dan Afghanistan yang diamankan dari Sidoarjo sempat mengajar Les Bahasa Inggris yang sebenarnya dilarang. Sedangkan Chen Kuo Cheng diketahui telah habis masa tinggalnya namun sempat membuat SPRI (Surat Perjalanan Republik Indonesia) dengan menggunakan identitas palsu. “Kesalahan WNA yang dari Sidoarjo itu karena mereka mengajar Les Bahasa Inggris. Kalau yang dari Blitar, dulu tahun 2014 sudah habis izin tinggalnya. Tapi kemudian dia membuat SPRI dengan dokumen palsu. KTP palsu, KK palsu, dan Surat Nikah Palsu,” imbuhnya.(kur)

Keterangan gambar: Kartu identitas para WNA yang diamankan di Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Surabaya.(foto: kurniawan)