width=

ADAKITANEWS, Nganjuk – Dari sembilan depo penyedotan air permukaan di kawasan Sawahan Kabupaten Nganjuk, ternyata ada 6 tempat yang beroperasi tanpa izin. Padahal aktivitas pemanfaatan sumber daya air itu sudah diatur dalam Perda nomor 2 tahun 2011 tentang RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) di wilayah Pemkab Nganjuk.

Temuan tersebut diketahui saat sidak yang dilakukan oleh anggota Komisi B DPRD Kabupaten Nganjuk bersama Bagian Perizinan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Nganjuk, Selasa (07/06) siang. “Semua pemanfaatan air permukaan harus dilengkapi izin dari BPPT Nganjuk,“ ujar Raditya Harya Yuangga, anggota Komisi B DPRD Nganjuk.

Hasil sidak kali itu membuat pihak dewan menyayangkan perilaku para pelaku usaha yang menjalankan usahanya tanpa izin. Selain merugikan pemerintah lantaran tidak ada pajak pengelolaan kekayaan daerah, perilaku ilegal tersebut juga merugikan lingkungan. “Saya yakin dengan tidak dilengkapi izin, pengusaha tadi telah melakukan eksplorasi tanpa ada upaya pemahaman dalam menjaga lingkungan,” ujar politisi yang akrab disapa Mas Angga ini.

Dewan mendesak kepada pihak berwenang, dalam hal ini Satpol PP Kabupaten Nganjuk untuk melakukan penghentian operasional terhadap depo yang tidak berizin dan melakukan pencermatan dampak lingkungan atas usaha pemanfaatan air permukaan sampai pengusaha yang bersangkutan melakukan pengurusan izin resmi.

Informasi yang dihimpun Tim Adakitanews.com di lapangan, akhir-akhir ini usaha depo pemanfaatan air permukaan banyak bermunculan di kawasan Sawahan. Ini terkait dengan melimpahnya persediaan dan banyaknya sumber air di kawasan itu. Pada awal tahun 2016 lalu diketahui hanya ada 3 perusahaan yang berdiri. Namun hanya berselang 4 bulan, sudah banyak bermunculan perusahaan pemanfaatan air permukaan di kawasan Sawahan. “Tercatat ada 9. Dan herannya yang dilengkapi izin hanya 3,” kata Siswanto salah seorang staf BPPT Nganjuk.

Jika hal tersebut dibiarkan, dimungkinkan akan menjamur perusahaan liar yang dampaknya akan merugikan lingkungan karena terjadi eksplorasi air tanpa terkendali. Menurut catatan dewan, setiap hari rata-rata ada 5 kali pengiriman air di setiap depo. Bahkan, jika musim kemarau, tiap depo bisa mengirim sebanyak 12 kali per hari.(Jati)