Sidang Walikota Madiun, Kabag Adbang: Saya Sempat Disuruh Musnahkan Bukti Setor

ADAKITANEWS, Sidoarjo – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Besar Madiun (PBM) dan potongan tunjangan pegawai Pemkot Madiun dengan terdakwa, Walikota Madiun Nonaktif, Bambang Irianto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Juanda, Sidoarjo, kembali digelar, Selasa (30/05). Sidang kali ini menghadirkan 12 saksi dari PNS Pemkot Madiun yang kebanyakan merupakan bendahara SKPD.

Saksi tersebut diantaranya Bendahara Kesbangpol, Karna Juwita, Bendahara Dispendukcapil, Sri murni, Bendahara Pengeluaran Adbang, Ariani, Kabag Adbang, Sadikun, Bendahara Lingkungan, Kasinah, Sulastri, Totot Sugiarto, Gembong Dwiarto, Esti Handayani, Harianto, dan Nita Kurniasari. Dari seluruh saksi-saksi tersebut rata-rata mengaku memberikan setoran.

Dalam persidangan, Karna Juwita, Bendahara Kesbangpol Kota Madiun tahun 2008 hingga sekarang menjelaskan Kesbangpol pernah menyetor Rp 10 Juta pada tahun 2016 dan diserahkan ke Sri Wahyuni, BPKAD. Hal senada juga dikatakan Bendahara Dispendukcapil, Sri Murni, yang menjelaskan bahwa ia sering disuruh oleh atasannya, Kepala Dispendukcapil untuk memberikan uang arisan.

Sementara itu Bendahara Pengeluaran pada Adbang tahun 2011 sampai sekarang, Ariani mengaku menyetor sekitar Rp 25 – 30 juta setiap tahunnya mulai 2011 hingga 2016. “Saya setor ke Bu Sri Wahyuni,” katanya.

Kabag Adbang sejak Juni 2013 hingga Desember 2016, Sadikun juga mengaku setiap tahun wajib menyetor dan diambil dari potongan honor pegawai. “Yang menerima setoran saya sendiri dalam bentuk tunai, lalu saya setorkan ke Bu Elok. Tapi saya selalu komunikasi dengan Pak Bambang,” jelasnya.

Sadikun mengungkapkan, setelah terdakwa Bambang Irianto dipanggil KPK pada awal-awal, dirinya sempat dipanggil orang nomor satu Kota Madiun ini. “Saya dipanggil Pak Bambang di rumahnya di Jalan Jawa disuruh memusnahkan data-data yang terkait dengan setoran,” jelasnya.

Pria berkumis ini mengaku pada tahun 2013 pernah menerima setoran yang jumlahnya miliaran, dan tahun 2016 sekitar Rp 1,3 miliar. “Pak Bambang selalu hubungi saya kalau gak ada setoran masuk. Gimana le kok sepi,” ujarnya menirukan perkataan Bambang Irianto.

Namun pernyataan Sadikun tersebut dibantah keras oleh terdakwa Bambang Irianto. “Itu tidak benar, anda disumpah lho saat memberikan kesaksian,” tegas Bambang.

Menurut Jaksa Penuntut Umum dari KPK, Feby Dwiyandospendy, penolakan itu merupakan hak terdakwa. “Itu hak terdakwa. Tapi kan penolakan terdakwa tadi tidak ada keterangannya,” jelasnya.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Unggul Waseso ini akan dilanjutkan pada Jumat (02/06) mendatang.(sid2)

Keterangan gambar : Saksi-saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan.(foto : mus purmadani)

Recommended For You