ADAKITANEWS, Nganjuk – Masyarakat petani pada umumnya pasti tidak asing dengan hewan bernama keong emas atau yang populer disebut siput sawah. Di kalangan petani selama ini, hewan bercangkang keras dan berwarna kuning keemasan tersebut adalah salah satu hama potensial tanaman padi dan sudah dianggap sebagai musuh petani selain hama tikus, virus tungro, ulat batang dan hama lainnya. Pasalnya ketika tanaman padi sudah terkena serangan hama keong emas, maka akan berakibat fatal dan petani bisa mengalami gagal panen (puso).

=========

Sesuai hasil riset, keong emas adalah jenis hewan pengerat yang memakan batang padi muda dan dapat menghancurkan tanaman padi pada saat pertumbuhan awal. Selain karena proses perkembangbiakan populasi keong emas relatif cepat, hewan tersebut juga tahan dengan obat pestisida. Hal itu menjadi permasalahan bagi petani karena sampai saat ini mereka belum menemukan metode jitu untuk pengendalian dan pembasmian keong emas. Untuk menekan populasinya, petani masih terbiasa menggunakan cara manual yaitu memungut dan menghancurkan telurnya.

Di balik fakta itu, ternyata keong emas tidak selamanya menjadi musibah. Tetapi sebaliknya, bisa menjadi berkah bagi petani atau masyarakat umum yang paham pemanfaatan keong emas.

Di Kabupaten Nganjuk, kini banyak bermunculan ragam kuliner yang menyuguhkan menu masakan ringan berbahan dasar daging keong emas. Mulai dari sate keong emas, oseng-oseng keong emas, juga masakan berkuah dengan campuran daging keong emas. Bahkan, yang sedang menjadi tren di Kabupaten Nganjuk saat ini yaitu kripik daging keong emas yang sudah banyak dijual oleh para pedagang keliling dengan harga yang sangat terjangkau.

Untuk satu bungkus kripik daging keong emas, pembeli cukup membayar dengan harga Rp 2.000 per bungkus dan sudah bisa menikmati rasa dominan kripik yang gurih dengan tekstur daging yang sangat empuk. ”Sekali mencoba bisa ketagihan selamanya,” ucap Agus, salah satu pembeli.

Di tempat terpisah, seperti dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Ir Agus Subagjo, pemanfaatan keong emas sebenarnya tidak hanya untuk peningkatan gizi masyarakat saja. Namun lebih dari itu juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti ikan, udang dan unggas. ”Komoditas ini layak untuk menjadi komoditas ekspor, terutama ke negara-negara yang memiliki sumber daya alam perairan, perikanan dan kelautan seperti Eropa, Jepang, dan Hongkong,” katanya.

Keong emas, lanjut dia, lebih baik dianggap sebagai sahabat daripada musuh petani. Karena bisa berpotensi meningkatkan nilai ekonomi petani dan masyarakat umum. “Saat musim hujan seperti ini, untuk mendapatkan keong emas sangatlah mudah. Karena dalam sebulan, seekor keong emas mampu memproduksi 1.000 hingga 1.200 butir telur,” tambahnya.

Ir Agus Subagjo menambahkan, beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk memanfaatkan sumber daya keong emas diantaranya dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat kelompok tani bagaimana cara membuat masakan olahan dan pakan ternak yang bisa meningkatkan nilai ekonomi secara jangka panjang. “Jangan selamanya petani beranggapan keong emas itu sebagai hewan pembawa musibah. Tapi mulailah berinovasi lebih maju bagaimana keong emas bisa mendatangkan berkah,” pungkasnya.(Bagus Jati Kusumo)

Keterangan Gambar : Penjual keong mas yang menjadi salah satu makanan favorit baru di Kabupaten Nganjuk