ADAKITANEWS, Blitar – Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, pada 2017 ini ada 82 kasus gizi buruk. Tetapi hingga Juni lalu sudah ada 10 kasus yang berhasil disembuhkan.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar, Yuliani mengatakan, rata-rata balita yang menderita gizi buruk ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, bahkan dapat dikatakan miskin. Dan keberadaan balita penderita gizi buruk ini, tersebar di seluruh Kabupaten Blitar.

Menurutnya gizi buruk sebenarnya dapat disembuhkan dengan pemberian asupan gizi tambahan. Untuk itu, pihaknya secara intensif berupaya melakukan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita yang menderita gizi buruk.

“PMT ini berupa susu padat gizi dan mineral yang rutin diberikan pada penderita gizi buruk,” ungkap Yuliani, Sabtu (09/09).

Selain itu gizi buruk juga dapat disebabkan oleh asupan gizi yang kurang selama kehamilan. Untuk itu diperlukan tambahan gizi bagi balita selama periode emas, yakni usia nol sampai dua tahun.

“Jadi nutrisi yang kurang selama kehamilan, harus diganti ketika bayi lahir, khususnya periode emas ini,” ungkapnya.

Meski demikian ada faktor yang membuat penyembuhan gizi buruk ini tidak berjalan maksimal, yakni adanya penyakit penyerta pada saat bayi lahir. “Apabila ada balita mengalami gizi buruk dan disertai penyakit penyerta, maka harus disembuhkan terlebih dahulu penyakit penyertanya,” tegasnya.(fat/wir)

Keterangan gambar: Yuliani, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar.(ist)