width=

ADAKITANEWS, Kota Kediri – Ogoh-ogoh yang diarak dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi tahun Saka 1939 di Kota Kediri tersangkut pohon dan patah sebelum sampai di Pura Penataran Agung Kilisuci kawasan Goa Selomangleng, Selasa (27/03). Apakah hal itu termasuk pertanda buruk?

Dikonfirmasi Tim Adakitanews.com, Ketua Pelaksana, I Gusti Nurah Wengten mengatakan memang ogoh-ogoh Butha Kala yang diarak sore itu sempat tersangkut pohon saat menuju pura untuk dibakar. Akibatnya, salah satu tangan dari ogoh-ogoh patah dan jatuh ke tanah.

Dikatakan, ogoh-ogoh berbentuk raksasa itu adalah lambang dari sekumpulan setan, jin, iblis dan jenis makhluk halus lainnya, yang dijadikan satu dan diberi nama Butha Kala. I Gusti Nurah Wengten menjelaskan, jika terjadi patah sebagian dari Butha Kala itu, maka akan berakibat buruk bagi yang terkena patahannya. Dalam artian karena setan atau makhluk halus yang bersifat jahat itu merasuki orang tersebut. “Namun tadi ketika patah tidak mengenai siapapun. Jadi positif thinking saja, itu murni kecelakaan. Secara alamiah karena itu terbuat dari bahan sterofoam jadi mudah patah, itu tidak ada pertanda apapun,” ujarnya singkat.

Arak-arakan ogoh-ogoh yang dimulai dari Bundaran Sekartaji Kota Kediri tersebut merupakan bagian dari acara peringatan Hari Raya Nyepi, Rabu (28/03) besok. Saat Nyepi, mulai pukul 06.00 WIB hingga terbit fajar keesokan harinya umat Hindu diharuskan berpuasa.

Ada 4 larangan bagi umat Hindu selama menjalani puasa tersebut. Yaitu Amati Karya atau tidak boleh bekerja, Amati Geni atau tidak boleh menyalakan api, Amati Lelungan atau tidak boleh bepergian, dan Amati Lelanguan atau tidak boleh bersenang-senang dan mencari hiburan baik itu nonton televisi, berjudi maupun kesenangan lainnya.(kdr4)

Keterangan gambar : Saat Ogoh-ogoh tersangkut pohon, dan juga saat dibakar.(foto:fasihhuddin kholili)