ADAKITANEWS, Nganjuk – Susanto, 40, salah satu petani asal Desa Gandu Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk belum lama ini menemukan mesin semprot pertanian yang menggunakan tenaga elektrik berupa baterai isi ulang dengan kekuatan 12 volt 7 ampere.

Dengan alat konvensional ini, petani tidak akan lagi terbebani dengan berat tangki saat menyemprot tanaman menggunakan cairan pestisida. Pasalnya, boks tangki terbuat dari lempengan aluminium yang beratnya hanya 3,5 kilogram. Sedangkan tangki pabrikan yang biasa digunakan petani beratnya bisa mencapai 20 kilogram.

Keunggulan lain alat ini seperti dikatakan Susanto saat mendemonstrasikan temuannya di lahan pertanian Desa Betet Kecamatan Ngronggot adalah lebih efisien waktu dan mudah dioperasikan. Dalam alat tersebut dilengkapi bak tandon sebagai tempat pencampuran air tawar dengan pestisida cair. Sedangkan di bagian bawah bak tandon terdapat lubang untuk dipasangi selang sebagai tempat keluarnya air pestisida yang dihisap atau didorong menggunakan motor penggerak berupa dinamo.

”Ketika mesin sudah dalam kondisi hidup, air pestisida yang berada di dalam bak tandon akan mengalir karena dihisap menggunakan dinamo dan secara otomatis teralirkan ke dalam alat semprot,” tukas Susanto, Rabu (11/05).

Ditanya soal ketahanan dan durasi waktu penggunaan baterai, Susanto yang hanya tamatan STM itu mengatakan bahwa dalam sekali pakai, idealnya bisa digunakan untuk lahan seluas maksimal 1,5 hektare. ”Maksimal penggunaanya untuk lahan seluas 1,5 hektare saja. Setelah itu harus diisi ulang kembali baterainya,” urainya kepada Tim Adakitanews.com.

Dengan menggunakan mesin semprot yang dijuluki tangki pintar tersebut, sementara baru bisa difungsikan untuk tanaman hortikultura seperti sayuran, buah-buahan dan tanaman perkebunan. Sedangkan untuk jenis tanaman pangan, baru bisa digunakan untuk kedelai dan jagung. ”Untuk tanaman padi belum bisa. Karena batang tanamannya berukuran pendek sedangkan alat ini menggunakan selang yang bisa merusak tanaman padi,” kata pria yang juga merupakan Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kabupaten Nganjuk.

Namun demikian, meski alat tersebut sudah mendapat sambutan positif dari masyarakat petani, Susanto mengaku belum memiliki rencana untuk mematenkan hasil temuannya tersebut. ”Rencananya akan saya hak patenkan sambil menunggu petunjuk dari dinas terkait,” pungkasnya.(Jati)

Keterangan Gambar : Susanto, 40, salah satu petani asal Desa Gandu Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk bersama tanki pintarnya yang effisien dan ringan untuk menyemprot tanaman