ADAKITANEWS, Tulungagung – Kala teman sebayanya asyik bermain, David Ashari, 10, harus menjalani kehidupan yang berbeda. Seorang diri, siswa kelas empat SD ini harus mengurus neneknya. Kehidupan yang berat ini sudah dijalankan David selama tujuh tahun.

=========

Dengan sabar, di sebuah rumah berukuran 5×7 meter dengan dinding bata tanpa sapuan cat di Dusun Blimbing RT 6/RW 2 Desa Jeli Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung , David Ashari tinggal bersama Supiyem, 74, nenek yang dirawatnya.

Karena kondisi kesehatan neneknya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan, David harus mengorbankan masa emasnya untuk bekerja serabutan di sebuah penggilingan padi yang lokasinya sekitar satu kilometer dari rumahnya. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama nenek yang telah mengasuhnya sejak David masih berusia tiga tahun.

Meski harus menanggung beban yang begitu berat untuk anak seusianya, namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu di SD Negeri 1 Jeli, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya.

Sepulang sekolah, sekitar pukul 13.00 WIB, setelah belajar mengaji di sekolahnya, David tidak bergabung dengan temannya untuk bermain atau sekadar membeli jajanan sekolah. Tetapi ia akan bergegas pulang.

Setelah berganti pakaian dan makan siang, dia selalu datang ke tempat penggilingan padi milik Pak Nur (David memanggil teman almarhum ayahnya itu dengan sebutan Pak Nur). “Hasil kerja di Pak Nur, selain untuk membeli kebutuhan makan, akan saya tabung, untuk membelikan televisi dan kompor untuk nenek,” ungkap David Ashari polos.

Di tempat penggilingan padi itu, David sekadar membantu yang bisa dikerjakan. Dari hasil keringatnya, dia mendapatkan uang saku mulai Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu. “Bayarannya tidak pasti. Karena penggilingannya kadang sepi, uangnya saya kasihkan kepada nenek untuk keperluan makan, sebagian lagi ada yang ditabung,” ungkapnya.

David memiliki keinginan untuk membelikan neneknya sebuah kompor gas dan televisi. Sebab, setiap hari saat neneknya memasak hanya dengan tungku kayu bakar, karena kompor gas satu-satunya yang dimiliki telah rusak.

Hasil dari membantu di tempat penggilingan tentu saja tidak cukup untuk mewujudkan keinginan David membelikan neneknya televisi dan kompor gas. Apalagi, Supiyem tidak memiliki penghasilan yang tetap dan hanya bergantung kepada beberapa pohon pisang yang berharap jika berbuah nanti buahnya akan dijual. Tak jarang, untuk makan sehari-hari mereka juga masih mendapatkan bantuan dari tetangga sekitar.

Tentang kondisi David yang kurang beruntung ini Supiyem bercerita, bahwa David merupakan cucunya yang lahir dari pasangan Nurkholis (anak Supiyem) dan Darmayanti. Orang tuanya bercerai saat David masih berusia sekitar tujuh bulan. Hingga ini Darmayanti (ibu David) tidak jelas keberadaannya. Sedangkan ayah David, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, ketika David masih berusia Taman Kanak-kanak.

“Orang tuanya sudah bercerai, sampai sekarang tidak jelas tempat tinggalnya. Kalau ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan. Jadi David bersama saya sejak kecil,” kata Supiyem.

Kisah David yang hidup dengan neneknya ini, sempat viral di media sosial dan simpati pun berdatangan. Saat wartawan berkunjung ke rumah Supiyem, secara bersamaan datang seorang warga yang memberikan bantuan kompor gas dan televisi. Namun, ketika dikonfirmasi, dermawan itu enggan berkomentar.

“Ya ini hanya ingin sekadar membantu, saya tahu melalui grup medsos SMA,” katanya tanpa menyebut identitas.

Memang saat ini David dan Neneknya sudah memiliki televisi dan kompor gas. Tapi bagaimana dengan nasib sekolah David, sementara dia mengambil alih tugas dan tanggungjawab sebagai kepala keluarga yang harus bekerja untuk kebutuhan keseharian bersama neneknya, yang seharusnya ini merupakan tanggung jawab orang dewasa.(ta1)

Keterangan gambar : David Ashari bersama Supiyem, nenek yang mengasuhnya, sedang menonton TV sumbangan donatur.(foto : acta cahyono)