ADAKITANEWS, Sidoarjo – Sejak peristiwa semburan lumpur Lapindo yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo 10 tahun silam, berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan dan menanggulanginya. Namun, belum satupun yang dianggap benar-benar bisa menghentikan bencana tersebut. Kondisi itu membuat Ir Djaja Laksana, memberikan tawaran solusi menggunakan teori Bendunan Bernoulli yang dipercaya bisa menghentikan sekaligus mengembalikan luapan lumpur kembali bawah tanah.

Di depan awak media, Ir Djaja Laksana memberikan pemaparannya tentang teori Bendungan Bernoulli yang bisa dijadikan referensi pemerintah menyelesaikan permasalahan luapan lumpur Lapindo. Secara teknis, Ir Djaja Laksana mengatakan bahwa setiap tekanan yang datang dari bawah pasti memiliki ketinggian atau head maksimal. Pemahaman itulah yang dijadikan dasar oleh Ir Djaja Laksana menawarkan metode Bendungan Bernoulli.

“Pada dasarnya setiap tekanan pasti ada head-nya. Kalau sudah mencapai ketinggian maksimal, pasti akan berhenti,” ujarnya, Sabtu (28/05).

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut bahkan mengatakan, Bendungan Bernoulli juga bisa mengembalikan luapan lumpur yang selama ini meluber, kembali ke bawah tanah sehingga daerah sekitar yang terdampak bisa dimanfaatkan kembali. “Teorinya kalau dikembalikan lagi ke dalam tanah juga pasti bisa,” jelasnya sambil mensimulasikan metode Bendungan Bernoulli.

Ir Djaja mengatakan, dari hitungan sementara yang ia ketahui, untuk membangun bendungan Bernoulli tersebut dibutuhkan waktu sekitar 8 bulan. Setelah ketinggian bendungan dirasa cukup, sedikit demi sedikit, lumpur yang ada di sekitar area akan dikembalikan ke dasar bumi. “Perkiraannya sekitar 8 bulan. Dananya kalau saya hitung sekitar Rp 8 triliun,” tambahnya.

Upaya tersebut, menurut Ir Djaja merupakan langkah terbaik dibanding kerugian yang selama ini timbul akibat luapan lumpur yang sudah mencapai ratusan triliun.(kur)

Keterangan gambar: Ir Djaja Laksana saat menjelaskan teori Bendungan Bernouli di depan awak media.(foto: kurniawan)