ADAKITANEWS, Tulungagung – Sejak satu bulan terakhir, SMP Negeri 6 Tulungagung melakukan uji coba penggunaan sistem absensi elektronik terintegrasi SMS gateway.

Uji coba ini ditujukan kepada siswa kelas 7 atau kelas 1 yang berjumlah 350 siswa. Karena masih dalam tahap uji coba terhadap sistem absensi digital ini, pihak sekolah hanya memasang 2 unit mesin bio finger print yang diletakkan di depan ruang kelas lantai satu.

Operator Absensi Elektronik, Adelia Setianingrum menjelaskan, absensi digital ini terdiri dari beberapa perangkat, yakni bio finger print, wireless, modem wifi dan computer. Perangkat ini akan bekerja saat siswa yang tiba di sekolah melakukan absensi dengan cara menempelkan sidik jari pada perangkat bio finger print. Secara otomatis mesin mengirimkan data ke server atau computer. Untuk beberapa saat operator server akan mengolah data untuk mengirimkan SMS ke ponsel orang tua siswa, dan selanjutnya orang tua siswa menerima pesan dari server.

“Begitu siswa mengabsen, saat itu juga laporannya terkirim ke server dan telepon seluler orang tua siswa. Jadi orang tua juga bisa memantau jam berapa anak mereka masuk dan pulang sekolah karena langsung ada laporannya,” kata Operator Absensi Elektronik, Adelia Setianingrum, Senin (19/02).

Menurut Kepala SMP Negeri 6 Tulungagung, Timbul Budiono, dengan uji coba absensi elektronik terintegrasi SMS gateway terhadap siswa kelas 1 ini kedisiplinan siswa untuk segera tiba di sekolah semakin meningkat.

“Dari hasil uji coba, selain kedisiplinan siswa meningkat, angka bolos sekolah siswa jauh berkurang, karena pihak sekolah langsung dapat menegur siswa dan menginformasikan kepada orang tua siswa,” kata Kepala SMPN 6 Tulungagung, Timbul Budiono.

Lanjutnya, sebelum mengaktifkan absensi elektronik ini, pihak sekolah melalui operator mengumpulkan data pribadi siswa, orang tua, nomor ponesl orang tua, serta pengambilan sidik jari siswa. Dengan skstem ini orang tua di rumah dapat mengetahui anaknya telah tiba dan meninggalkan sekolah, maupun anaknya pulang sekolah lebih awal.

Meski alat ini tergolong canggih, namun masih terdapat kendala dalam operasinya. Terutama di saat musim hujan, karena tidak jarang wireless pengirim gelombang radio ke server komputer tiba-tiba mati, sehingga untuk beberapa saat perangkat ini tidak bisa bekerja.

Budiono merencanakan dalam waktu dekat pihak sekolah akan menambah 4 unit bio finger print lagi sehingga dapat diaplikasikan kepada seluruh siswanya yang berjumlah 1.050 siswa. Bio finger print tersebut akan diletakkan di masing-masing kelas yakni kelas 2 dan 3.

Sementara itu, Deni Trisdi, salah satu wali murid menyambut positif adanya absensi elektronik ini. Karena dapat memantau langsung anaknya lewat ponsel yang dimiliki.

“Wali murid sekarang ini dapat mengetahui posisi anaknya apakah sudah tiba atau belum. Demikian juga saat pulang, akan terpantau jam berapa meninggalkan sekolah,” kata Deni Trisdi.

Kata Deni, dalam informasi SMS yang diterima orang tua, juga mencantumkan waktu tiba dan pulang sekolah sehingga orang tua dapat menanyakan ke sekolah keberadaan anaknya di saat jam-jam pelajaran beralangsung.(bac)

Keterangan gambar : Siswa sedang absen di perangkat absen elektronik.(foto : acta cahyono)