Terbiasa Garang Dengan Penjahat, Polisi Trenyuh Lihat Anak Cacat

IMG_6809IMG_6861@dakitanews Nganjuk – Semangat juang yang tinggi untuk mengenyam bangku sekolah yang ditunjukkan Khoirul Rozikin,8, bocah cacat tak memiliki dua tangan di Desa Sumberkepuh Kecamatan Tanjunganom membuat trenyuh komunitas polisi angkatan tahun 2000. Para polisi millenium ini sempat menitikkan air mata ketika melihat Khoirul makan dengan menggunakan kelincahan kakinya.

“Kami merasa prihatin dengan keadaan Khoirul, Walaupun mempunyai kekurangan, dia tidak malu untuk sekolah bersama anak-anak normal lainnya, ini yang menjadikan motivasi kami, dengan diberikan anggota tubuh yang normal dan menjadi polisi, akan membuat kami lebih giat bekerja sesuai tugas kami,” ujar KBO Reskrim Polres Nganjuk, Iptu Yogi Ardi Khistanto, SH, Kamis (25/12).

Polisi angkatan tahun 2000 ini mengatakan, hal yang membuatnya kagum terhadap bocah ini adalah semangatnya untuk hidup dan semangat untuk menuntut ilmu yang tak pernah padam. Untuk memotivasi agar Khoirul tetap tegar dan tetap semangat bersekolah, dia bersama 34 rekan sesama angkatan 2000 yang bertugas di Polres Nganjuk memberikan bantuan sekedarnya. “Kami memberinya bantuan sekedarnya untuk memompa semangatnya,” kata Iptu Yogi.

Dikisahkan oleh perwira lulusan Secapa Polri tahun 2008 ini, 14 tahun yang lalu, dirinya bersama ribuan calon bintara atau DTT (Detacemen Two Thousand) dan SMDE (Sepolwan Milenium Dua Empat) telah digembleng untuk menjadi seorang Bintara Polisi.Tepatnya pada 23 Desember 2000 silam, ribuan calon bintara ini disahkan menjadi bintara dengan pangkat sersan dua polisi. “Karena waktu itu masih bergabung dengan ABRI maka pangkatnya sersan dua polisi, kalau sekarang brigadir polisi dua,” terang KBO Reskrim.

Untuk memperingati hari ulang tahun DTT dan SMDE tersebut, angkatan 2000 yang bertugas di segenap jajaran Polres Nganjuk melakukan bakti sosial, yakni memberikan bantuan serta santunan kepada orang cacat dan lumpuh. Hal ini sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah menakdirkan mereka menjadi seorang polisi. “Kita berikan sumbangan dan santunan kepada Khoirul sebagai cermin bagi kita yakni semangatnya,” pungkas mantan kanit pidana umum Satreskrim Polres Nganjuk.

Diketahui, Khoirul adalah anak semata wayang dari anak pasangan suami istri Sugeng (40) dan Painem (35). Dia terlahir cacat tanpa tangan sejak lahir. Orang tuanya yang hanya sebagai buruh tani hanya bisa pasrah dan selalu mendampingi anaknya belajar di sekolah. Walaupun dengan segala kekurangan, dia tetap semangat menjalani kesehariannya di rumah maupun di sekolah. Dengan segala keterbatasanya, dia belajar menulis, makan dan minum dengan kedua kakinya.

Kondisi Khoirul yang seperti ini, selayaknya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Sebab Khoirul bisa menjadi inspirasi bagi anak cacat lainnya agar bersemangat dan tidak malu untuk mengenyam pendidikan walaupun dengan segala keterbatasan. Semangatnya yang pantang menyerah perlu kita teladani. Begitu juga tekad kedua orang tuanya, meski selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, namun warga kurang mampu ini bertekad menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.(adv/jati)

Recommended For You