ADAKITANEWS, Madiun – Putusan terhadap Heri Purwanto, 25, warga Desa Tawangrejo Kecamatan Gemarang Kabupaten Madiun, terdakwa kasus pembunuhan mantan istrinya, selama 17 tahun tidak diterima oleh pihak keluarga korban. Bahkan, sebelum dan sesudah sidang, terdakwa nyaris dimassa oleh keluarga dan kerabat korban, Rabu (28/12).

Heri membunuh mantan istrinya, Iin Triarina Dewi, warga Desa Buduran Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun. Saat terdakwa belum keluar dari ruang tahanan Pengadilan Negeri Kabupaten Madiun untuk menjalani sidang, puluhan massa yang mayoritas merupakan keluarga korban sudah mengepung ruang tahanan. Bahkan nyaris tidak ada celah bagi petugas kejaksaan dan puluhan polisi untuk membawa terdakwa ke ruang sidang.

Saat massa lengah, petugas kejaksaan dan polisi membawa terdakwa ke dalam ruang sidang dengan berlari. Salah satu petugas dari kejaksaan, Novan bahkan sempat jatuh saat dikejar puluhan massa, ketika membawa terdakwa ke dalam ruang sidang.

Sementara itu, ibu korban, Sarinem, histeris dan jatuh pingsang karena tak mampu mendekati terdakwa. Setelah berhasil diselamatkan dari kejaran massa, dengan penjagaan ketat aparat, sidang kemudian langsung digelar dengan dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Horasman B Ivan.

Untuk kasus pembunuhan mantan istrinya, terdakwa divonis selama 17 tahun penjara. Dalam kasus lain, Heri juga divonis 3 tahun penjara atas kasus percobaan pembunuhan dengan korban Sumarno, yang saat kejadian sedang membonceng mantan istri terdakwa.

“Menyatakan terdakwa bersalah melanggar pasal 340 KUHP. Mengadili, menjatuhkan pidana penjara selama 17 tahun dipotong selama terdakwa ditahan,” kata ketua majelis hakim, Horasman B Ivan, dalam amar putusannya.

Dalam sidang sebelumnya, JPU menuntut terdakwa selama 17 tahun penjara. Akhirnya dalam sidang kali itu, terdakwa mendapat hukuman akumulasi selama 20 tahun penjara.

Usai pembacaan putusan, puluhan massa terus mengepung terdakwa di dalam maupun di luar ruang sidang. Namun, massa terkecoh karena terdakwa diselamatkan melalui pintu lain dan langsung dibawa lari petugas dan dimasukkan mobil operasional kejaksaan. Sedangkan massa mengira, terdakwa akan dibawa dengan mobil tahanan yang parkir di halaman pengadilan.

Atas putusan majelis hakim, baik JPU, Ady Rachman maupun penasehat hukum terdakwa, Jonathan D Hartono menyatakan pikir-pikir. “Masih ada waktu satu minggu untuk menentukan sikap apakah menerima atau banding. Kami masih pikir-pikir,” kata JPU Ady Rachman.

Sementara itu ibu korban, Sarinem, tidak puas atas vonis majelis hakim. Bahkan meski terdakwa sudah dibawa menuju Lapas, ia masih berdiri disamping mobil tahanan milik kejaksaan. “Pokoknya harus (hukuman,red) mati,” kata Sarinem sambil terus menangis.(uk)

Keterangan gambar: PINGSAN – Ibu korban pembunuhan Sarinem sempat histeris dan meminta terdakwa dihukum mati, sempat pingsan dan digotong ke lokasi teduh.(Foto: Agoes Basoeki)