ADAKITANEWS, Sidoarjo – Sebanyak 22 pemungut sampah rumah tangga kembali melakukan iring-iringan dengan berjalan kaki sembari membawa gerobak menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Griyomulyo, Desa Kalisogo, Kecamatan Jabon , Rabu (08/11) pagi.

Para pemungut sampah ini membantah aksinya ini ada pihak yang menunggangi. “Ini bukan demo, bukan juga bentuk protes. Tapi ini murni karena tanggung jawab kami kepada warga. Kami tidak ada yang menunggangi,” ujar salah satu pemungut sampah rumah tangga, Sujari.

Pria 45 tahun ini membenarkan memang ia bersama kawan-kawannya diberi alternatif oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo untuk membuang sampah di Desa Bluru, Desa Kemiri dan Delta Praloyo. Namun menurutnya, tiga tempat tersebut sudah overload. “Petugas DKP (sekarang DLHK) tidak tahu kondisi sebenarnya. Kalau kita buang kesana maka akan tambah meluber,” katanya.

Sujari berharap agar TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) segera dibuka. “Selasa itu ada petugas DKP yang menelepon saya mengatakan kalau Rabu ada pertemuan di kantornya. Kenyataannya setelah saya hubungi lagi, petemuan itu diundur Kamis (09/11). Saya berharap segera ada pertemuan, agar masalah ini tidak berlarut-larut. Kasihan kami cuma rakyat keci,” harapnya.

Sementara itu, Kepala DLHK Sidoarjo, Bahrul Amig tetap kukuh dengan penyataan yang disampaikannya pada Senin (06/10). Menurutnya apa dilakukan pemungut sampah rumah tangga itu tidak murni atas inisiatif pribadi. “Itu ada yang menunggangi. Meskipun sudah diberikan solusi tiga lokasi sebagai tempat pembuangan sampah, namun mereka menolak dengan berbagai alasan. Kami tidak segan akan melakukan tindakan tegas terhadap oknum yang menunggangi tersebut,” ujarnya.

Amig membenarkan adanya penarikan uang sebesar Rp 5.000 per KK. “Namun itu untuk pengelolaan sampah. Intinya mereka itu iri dengan CV Bumi Bakti karena tidak bisa mengelola sampah. Kami berharap agar mereka bersabar dulu, kami tidak menutup selamanya kami juga tidak mengusir. Kami hanya melakukan penataan ulang agar bisa lebih baik nantinya,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, sebanyak 26 pemungut sampah rumah tangga mendatangi gedung DPRD Sidoarjo, Senin (06/11) pagi. Dengan berjalan kaki sembari membawa gerobak mereka bermaksud wadul ke anggota dewan agar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Lingkar Timur, Desa Bluru, Kecamatan Kota agar segera dibuka.

Setelah mengadu ke DPRD para pemungut sampah ini melanjutkan perjalanan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Griyomulyo, Desa Kalisogo, Kecamatan Jabon.

Selain itu pria ini juga mengaku resah adanya pungutan yang dilakukan oleh oknum dari CV Bakti Bumi sebesar Rp 5.000 per Kepala Keluarga. Dari keterangan yang dihimpun dari pemungut sampah ini, TPST Lingkar Timur ini sedang dalam tahap perbaikan. Namun dari pantauan di lokasi, tidak tampak adanya aktivitas perbaikan, meskipun di dalamnya terlihat pegawai Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo. Yang terlihat hanya palang pintu yang tertutup serta tulisan TPST ditutup sedang dalam perbaikan.(pur)

Keterangan gambar : 22 pemungut sampah rumah tangga kembali melakukan iring-iringan dengan berjalan kaki sembari membawa gerobak menuju TPA Jabon.(foto: mus purmadani)