Tradisi Turuhan Pusaka Ngaliman

1219

ADAKITANEWS, Nganjuk – Sebuah tradisi peninggalan leluhur yang masih dilestarikan warga Ngliman Kabupaten Nganjuk hingga kini yakni tradisi turuhan pusaka. Tradisi ini diyakini sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah Yang Maha Kuasa atas apa yang diraih selama ini.

Pantauan Tim Adakitanews.com, berangkat dari Gedung Pusaka Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk, masyarakat berbondong-bondong mengikuti prosesi kirab Pusaka Tindih Ngliman. Dengan cara digendong, pusaka leluhur warga setempat ini satu persatu dibawa oleh para sesepuh desa untuk diarak keliling desa.

Sebelum dilakukan turuhan, pusaka dikirab mengelilingi desa. Uniknya dalam acara kirab kali ini warga tidak diperbolehkan menyalakan lampu penerangan. Warga hanya diperbolehkan menyalakan lampu oncor dari bambu dan dibawa keliling mengiringi pusaka leluhur warga setempat.

Macam-macam pusaka yang dituruh antara lain, Kyai Bondan, Kyai Jokotruno, Kyai Endel, Kyai Kembar, Mbah Panji, dan Mbah Betik. Keenam pusaka ini adalah pusaka milik leluhur warga Ngliman yang disimpan di dalam rumah pusaka, di pintu masuk tempat Wisata Sedudo.

Menurut Imam Widodo, sesepuh Desa Ngliman, tradisi turuhan ini dilakukan saat malam sebelum jamasan pusaka dilakukan. Dalam prosesi turuhan ini para pembawa pusaka tidak boleh sembarang orang. Yakni harus warga asli Ngliman yang dituakan dan harus sudah mantu mbubak. “Pembawa pusaka tidak boleh sembarang orang, harus memenuhi kriteria,” ujarnya.

Setelah pusaka dikirab, selanjutnya dilakukan upacara turuhan yang dilakukan di tempat kamituwo. Sebelum dituruh pusaka ini, dihidupkan terlebih dahulu kemenyan dan para sesepuh secara bergantian melakukan turuhan.

Turuhan adalah memasukkan bagian ujung pangkal pusaka ke dalam air yang diambil dari sumber air sedudo dan dicampur beberapa bunga, setelah dituruh pusaka dimasukan lagi ke dalam wadah yang nantinya akan dikirab lagi. Air bekas turuhan pusaka ini diyakini warga Ngliman sebagai air yang dapat mengusir hama penyakit tumbuhan yang menyerang tanaman para petani di Desa Ngliman.(Jati)

Keterangan Gambar: Prosesi Turuhan Pusaka dan kirab.(Foto : Bagus Jatikusumo)