2015-09-12_16.42.54

ADAKITANEWS, Kediri – Ditengah lesunya ekonomi secara global, bisnis jasa potong rambut termasuk bisnis yang tidak terpengaruh. Pasalnya, sektor jasa ini dibutuhkan seluruh kalangan tanpa mengenal kelas, usia maupun profesi.

Kendati terkesan remeh, jasa tukang cukur atau potong rambut tetap saja dibutuhkan masyarakat. Berbagai istilah untuk mengkemas profesi ini pun banyak dilakukan, namun substansinya tetap sama, yakni memotong dan merapikan rambut.

“Banyak istilah kalau sekarang, biasanya disesuaikan dengan kelas sosial pemanfaat jasa ini. Untuk kalangan pejabat atau kaum elit, paling tidak mereka ke salon untuk merapikan rambut. Tapi untuk kaum masyarakat biasa ya ke tukang cukur seperti saya,” ungkap Hartono, salah seorang tukang cukur di wilayah pasar Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri.

Profesi tukang cukur sudah ia lakoni sudah 10 tahun lebih. Ia mengaku, bisnis jasa yang dilakoninya, berawal dari ketidaksengajaan. Ia yang bekerja di sebuah pabrik di wilayah Kediri, tiba-tiba terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Padahal, ia satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarga. Perlakuan yang tidak mengenakan baginya saat itu. “Sempat stres, mau dikasih makan apa keluarga saya. Tanpa ada pemberitahuan tiba-tiba terkena PHK. Saya sempat protes, tapi sia-sia hasilnya,” tuturnya.

Dari kondisi yang terjepit secara ekonomi tersebut, kata Hartono, dirinya justru menemukan jalan alternatif mengatasi kesulitan ekonomi keluarganya. “Tuhan maha adil, saya percaya itu. Dari hobi dan kebiasaan saya mencukur gratis teman-teman sekampung, akhirnya justru banyak yang mendorong saya untuk membuka jasa tukang cukur. Awalnya saya tidak berani, karena saya tidak pernah kursus memangkas rambut. Namun karena didorong terus oleh teman-teman saya akhirnya berani,” ungkapnya.

Hartono menuturkan, awal membuka jasa cukur, dirinya hanya berbekal gunting dan dan sebuah silet saja. Lokasinya pun hanya dipinggir lokasi pasar pasar. Namun, setelah beberapa lama, ia akhirnya dapat membeli stan kios yang ada di pasar tersebut. “Alhamdulillah setelah buka, menjadi banyak kenalan dan banyak pelanggan. Dan mulai bisa menyisihkan uang selain untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Meski tarip yang ia patok untuk para pelangganya tidak terlalu besar, namun dengn jumlah pemanfaat jasa cukurnya yang banyak, penghasilan yang diterima pun tergolong besar. “Hanya Rp. 6 ribu saja untuk satu orang. Sehari yang datang ke sini antara 20 sampai 30 orang. Jadi kita dapat Rp. 120 ribu sampai Rp. 160 ribu, dipotong retribusi, biaya listrik dan perawatan alat, paling tidak membawa hasil bersih Rp.60 ribu sampai Rp.120 ribu, cukup untuk kebutuhak keluarga dan sedikit menabung,” jelasnya.

Dibanding bekerja di pabrik, kata Hartono, lebih nyaman usaha sendiri. Sebab lebih bebas dan tidak ada yang menekan. “Setelah sadar, saya baru merasakan, mengapa harus bekerja pada orang lain, harus menuruti perintah yang terkadang kita tidak suka. Profesi yang saya jalankan sebagai tukang cukur saat ini tidak lebih merdeka. Tidak ada matinya, tetap dibutuhkan orang, juga tidak terpengaruh dengan harga dolar ataupun krisis ekonomi. Mungkin orang lain bisa meniru saya dengan bidang yang berbeda, silakan mencoba,” pungkasnya. (blot/zay).

Keterangan Gambar : Usaha potong rambut yang tidak ada matinya dan tahan dari kelesuan ekonomi