2015-08-26_20.00.49

ADAKITANEWS, Blitar – Program bebas pasung yang digagas oleh Pemerintah Pusat sepertinya terancam gagal. Hal ini diperkuat dengan ditemukanya satu persatu korban pasung yang tidak tersentuh program ini. Dan yang lebih ironis lagi, para korban ini tidak pernah sekalipun dijenguk oleh petugas dinas terkait.

Salah satu korban pasung yang tidak mendapat perhatian Pemkab Blitar adalah Nanang,35, warga Dusun Genengan, RT 03 RW 03 Desa Genengan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Anak ke 4 dari 6 bersaudara ini dipasung beton di belakang rumah oleh keluarganya lantaran sering mengamuk akibat gangguan jiwa. Nanang sudah dipasung selama 13 tahun.

Supini ,63, ibunda Nanang bercerita, anaknya menderita gangguan jiwa setelah belajar ilmu perdukunan. “Kakeknya adalah seorang dukun, barangkali dia terinspirasi dan terobsesi belajar dukun. Lalu dia belajar diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun dan akhirnya gila,” kata Supini.

Supini menambahkan, setelah mulai menderita sakit jiwa itu anaknya sering merusak perabot rumah milik tetangganya seperti kursi, lemari, pintu, jendela dan lain sebagainya. Bahkan, lanjut Supini, yang lebih aneh lagi Nanang suka menyembelih hewan milik tetangga seperti ayam dan kambing untuk di minum darahnya.

“Kebiasaanya itu suka menyembelih ayam dan kambing dan diminum darahnya. Hewan-hewan yang disembelih itu tidak hanya milik keluarga, tapi juga milik tetangga,” ungkap Supini.

Supini melanjutkan, karena dari waktu ke waktu sakit jiwa yang diderita semakin parah, maka dirinya berusaha memberikan pengobatan untuk anaknya. Namun, segala macam pengobatan mulai dari Rumah Sakit Jiwa hingga ke dukun pernah ia coba, tidak ada yang berhasil hingga harta bendanya habis.

Kini Supini mengaku sudah pasrah dengan sakit yang diderita oleh anaknya. Karena, semenjak suaminya meninggal dunia dirinya sudah kehilangan banyak harta benda untuk mengobatkan anaknya. Maka jalan satu-satunya adalah dengan memasung Nanang di belakang rumah dengan beton.

“Yang saya bisa ya hanya seperti ini, yang penting saya bisa merawat Nanang. Untung suami saya yang pensiunan guru masih meninggalkan uang pensiunan untuk saya,” kata Supinin yang kini hanya tinggal bersama Nanang saja dirumah.

Sejauh ini Supini mengaku tidak pernah mendapatkan sosialisasi dari Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK) tentang program bebas pasung dan juga petugas dinas terkait yang mensosialisasikan BPJS Kesehatan.

Arif Witanto, Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Timur mengatakan, dengan kembali ditemukanya korban pasung dari Doko ini adalah bukti jika Program Bebas Pasung sekaligus BPJS Kesehatan yang digalakkan oleh Pemerintah menjadi sebuah program yang gagal. Terkhusus Arif mengkritik kinerja dari Tenaga Kerja Sosial Kecamatan yang tidak peka terhadap adanya korban pasung yang ada di sekitarnya.

“Terlepas apapun latar belakang korban pasung, entah ia menderita sakit jiwa karena ilmu hitam atau faktor lain. Pemda harus memberikan penanganan. Disini terbukti jika TKSK tidak berfungsi. Mereka (TKSK-red) yang memiliki peran memantau dan memberikan sosialisasi di daerah tidak bekerja sebagaimana mestinya,” kata Arif.(Wiro/Jati)

Keterangan Gambarr : Korban pasung warga Doko tidak tersentuh program pemerintah