SAM_0305 (1)@dakitanews Kediri – Warga lereng Gunung Kelud, Kediri masih belum juga bisa hidup nyaman. Selain masih ada ancaman lahar hujan, di awal musim hujan, juga membuat beberapa sumber mata air menjadi keruh. Tidak adanya akses air bersih dari Perusahaan Daerah Air Mineral (PDAM), warga lereng kelud terpaksa harus mengkonsumsi air dari sumber mata air tersebut.

M Lukman Hakim, warga Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri mengaku beberapa desa di dua kecamatan yakni Puncu dan Kepung telah seminggu mengkonsumsi air keruh ini. Hal ini sudah dilaporkan kepada Dinas Pengairan, tapi tidak bisa melakukan apapun dan terkesan pasrah.

“Gimana lagi mas ini kan sudah mulai musim hujan,” kata Lukman menirukan jawaban Dinas Pengairan atas laporan warga Puncu tersebut, Jumat (14/11).

Sebenarnya, lanjut Lukman, setiap kali musim hujan membuat sumber mata air menjadi keruh dan sudah biasa dikonsumsi. Namun kali ini berbeda. Setelah diteliti oleh Konsorsium Pengurangan Resiko Bencana (KPRB) Bandung air berlumpur ini mengandung belerang dan fosfor yang disebabkan erupsi Gunung Kelud. Air tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi.

“Katanya kalau buat mengairi tanaman ini bagus, tapi jika dikonsumsi seperti racun ini,” jelas salah satu Pengurus Aliansi Warga Kelud (AWK) ini.

Pemerintah Kabupaten Kediri telah membantu lewat PDAM. Bantuan tersebut berupa pipanisasi dan tandon air meskipun itu tak merata. Tapi Lukman mengeluhkan tandon air yang disediakan Pemkab tidak dilengkapi penyaring air atau filter. Sehingga dikala musim hujan seperti ini warga terpaksa menggunakan air bercampur lumpur ini.

Lukman berharap Pemkab lebih cepat bertindak menangani hal ini. Apalagi pada musim hujan warga masih terancam dengan kiriman lahar hujan. Yaitu lahar yang disebabkan adanya intensitas hujan yang tinggi. Lahar itu pun juga akan membawa sisa material vulkanik Gunung Kelud.(Kunam/Bimo)

Keterangan gambar : Lukman saat menunjukkan contok air yang diambil dari mata air yang menjadi sumber air utama warga lereng gunung kelud