Warga Ngotot, PT KAI Tidak Berhak Paksa Kosongkan Rumah

1235

kai-3ADAKITANEWS, Madiun – Pengosongan sebanyak 3 unit rumah milik PT KAI Daops VII Madiun di Jalan Buton masuk Kelurahan Madiun Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Kamis (08/09) sekitar pukul 04.45 Wib, sempat diwarnai kericuhan. Pasalnya, penghuni dan puluhan simpatisan sudah berjaga-jaga, terkejut dengan kedatangan ratusan personil Polsuska, Satpam dan personil lain dari PT KAI Daops VII Madiun.

“Saat mereka datang, aparat PT KAI langsung mendatangi rumah yang saya huni. Mereka langsung mendobrak pintu dan meminta penghuni segera keluar dari rumah,” jelas Supriyadi penghuni rumah nomor 3.

Spontan sejumlah penghuni berteriak meminta pertolongan dari sejumlah simpatisan masih terlihat tidak jauh dari lokasi. Penghuni rumah dibantu belasan simpatisan mencoba lakukan penghadangan, sempat terjadi ricuh masa dengan aparat dari PT KAI Daops VII Madiun. Namun, masa berjumlah lebih kecil, akhirnya terdesak Hinga di ujung Jalan Buton atau masuk Jalan Biliton. “Kalian tidak manusiawi, jangan hanya rakyat kecil kami ditindas,” teriak seorang wanita.

Penghuni memprotes lantaran bangunan yang mereka tempati masih dalam proses hukum di PN Kota Madiun. Sehingga masih dalam status quo. “PT KAI tidak dapat menunjukkan surat sah sebagai pemilik tanah dan bangunan. Maka itu, kami minta tindakan pengosongan ini melawan hukum. Kami minta hentikan aksi paksa mengeluarkan penghuni dari rumah,” ujar seorang wanita lainnya.

Namun, aparat PT KAI Daops VII Madiun tetap mendorong masa dan menghadang penghuni masuk Jalan Buton atau rumah dihuni. Masa tidak bisa berbuat banyak dengan hadangan itu. “Tidak benar dalih penghuni itu, dalam gugatan di pengadilan, kami dimenangkan. Jadi tidak ada putusan hukum dianggap status quo,” ujar Manager Humas PT KAI Daops VII Madiun Suprianto.

Ia menyatakan sejak 2 pekan lalu, penghuni diberi pemberitahuan agar mengosongkan rumah. Sebab, mereka sudah diberikan pilihan untuk menyewa sesuai aturan baru, namun mereka menolak. “Kami lakukan pendekatan persuasif sejak lama, tapi masih saja mereka tidak mau keluar dari rumah yang dihuni,” ujarnya.

Aksi ricuh kembali terjadi, saat pengacara penghuni datang. Sejumlah simpatisan berusaha masuk Jalan Buton. Ketiga rumah dikosongkan saat ini dihuni oleh Has Madi, Isnaun dan Kabenan, mereka tinggal sejak ayahnya bekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), kini PT KAI. Tapi, orang tua mereka sudah meninggal, bahkan sudah jatuh hingga cucu. Kembali, ricuh terjadi saat sejumlah truk untuk pengangkutan barang datang.

Herman menghalangi truk akan masuk Jalan Buton. “Jika truk berani masuk, saya halangi sekuat tenaga,” ujarnya sembari didukung penghuni lain. Aksi itu, berakhir setelah menerima penjelasan dari PT KAI Daops VII Madiun terkait biaya pengangkutan serta kuli menuju lokasi yang ditetapkan gratis. Kondisi kembali kondusif hingga seluruh barang milik penghuni dikirim ke lokasi berakhir hingga pukul 10.30 Wib.(Uk)

 

Keterangan Gambar : Seorang anggota Polsuska dengan arogannya menganggap kecil, didepan puluhan anggota Satpam dikerahkan untuk melakukan pengosongan rumah milik PT KAI Daops VII Madiun, entah ditujukan kepada. Sang Polsuska menunjukan jari kelingking saat sejumlah pewarta mengabadikan momen tertentu.(Foto: Agoes B)