ADAKITANEWS, Tulungagung – Rutinitas warga di Pantai Sidem Desa Besole Kecamatan Besuki Tulungagung, Kamis (14/09) siang, panik saat suara sirine tanda bencana tsunami dari speaker musala berbunyi. Berikutnya, disusul bunyi kentongan yang bersahutan, sebagai tanda akan terjadi bencana tsunami.

Beberapa saat sebelumnya di kawasan itu dikejutkan dengan gempa bumi yang terjadi di pesisir selatan jawa dengan kekuatan 7,9 SR. Setelah mendengar raungan sirine bencana tsunami, seluruh warga pantai sidem yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, lari berhamburan menyelamatkan diri ke arah bukit.

Mereka menyelamatkan diri tanpa sempat membawa harta benda yang dimiliki. Bahkan sejumlah warga yang tidak sempat menyelamatkan diri dari dalam rumah, juga sempat mengalami luka-luka tertimpa reruntuhan material rumah akibat digoncang gempa.

Untuk sementara waktu, warga mengungsi di perbukitan, tinggal di tenda pengungsian yang telah didirikan oleh BPBD setempat, termasuk warga yang mengalami luka-luka.

Setelah gelombang tsunami yang menerjang pantai Sidem reda, sejumlah bantuan mulai berdatangan. Mobil ambulans segera mengevakuasi korban luka menuju posko medis. Sedangkan warga lainnya diungsikan ke tempat yang lebih aman dengan dibantu tim relawan.

Kondisi tersebut merupakan skenario dalam simulasi lomba desa tangguh bencana Tsunami tingkat Jawa Timur. Lomba ini diselenggarakan di wilayah pantai Sidem dan pantai Popoh, karena wilayah ini masuk dalam zona merah bencana tsunami.

“Kegiatan ini sekaligus merupakan sosialisasi penanganan bencana tsunami, agar warga pesisir pantai selalu waspada,” kata Syahri Mulyo, Bupati Tulungagung ketika menyaksikan kegiatan simulasi.

Pesan Syahri, jika warga merasakan tanda-tanda yang mengarah pada bencana tsunami, diharapkan segera menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih aman, sesuai jalur evakuasi yang telah disiapkan.

Sementara itu, Menurut Wisnu Widjaya, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan langkah antisipatif.

“Warga pesisir harus memahami rumus 20 20 20. Artinya bila merasakan gempa bumi selama 20 detik, dapat dipastikan berkekuatan di atas 6 SR, dan jika terjadi di laut maka akan berpotensi tsunami. Selanjutnya warga dalam waktu 20 menit, mempunyai kesempatan menyelamatkan diri di ketinggian bukit 20 meter,” ungkap Wisnu Widjaya.

Tambah Wisnu, meski diketinggian 20 meter tersebut belum dikatakan aman 100 persen, dari terjangan gelombang tsunami, namun dari kejadian historikal bencana tsunami, telah dinyatakan aman.

Disisi lain, Wisnu memberi catatan terhadap simulasi yang dilaksanakan di Tulungagung ini. Menurutnya, simulasi tidak dilaksanakan secara totalitas.

Wisnu mencontohkan, jalur evakuasi yang ada belum layak dijadikan sebagai jalur penyelamatan, karena lebar jalan tidak sebanding dengan kondisi warga. Selain itu, lokasi evakuasi, seharusnya berada di bukit, namun faktanya dalam simulasi tidak sampai di atas bukit.

“Jadi sayang, kalau dalam simulasi ini tidak dilakukan sebagaimana kejadian yang sebenarnya. Simulasi ini sekaligus merupakan edukasi, jadi warga harus benar-benar paham, langkah apa yang dilakukan jika terjadi bencana betulan,” pungkas Wisnu.(ta1)

Keterangan gambar : Korban mendapat perawatan medis.(ist)