IMG01135-20141106-1704IMG_20141106_172132@dakitanews Kediri – Warga Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, melakukan ritual “Nyadran” di situs desa yang pohon-pohon di sekitarnya telah ditebang secara liar. Ritual itu di bertujuan agar kasus penebangan liar dan sengketa tanah di Dusun Simbarlor segera tuntas. Kamis (6/11) sore pukul 17.00 Wib.

“Kami lakukan ritual “Nyadran” agar segala persoalan, termasuk penebangan liar dan sengketa tanah di desa kami bisa segera selesai. Yang salah biar segera dihukum, dan yang benar biar segera terlihat kebenaranya, ” ujar Suyadi, salah seorang warga yang mengikuti acara ritual tersebut.

Ritual warga dilakukan di Punden Mbah Ajeng Dusun Simbarlor, Desa Plosokidul. Suyadi mengatakan, ritual itu sebenarnya dilakukan secara rutin setiap bulan Suro,  untuk menghormati dan mwngwnang jasa leluhur mereka.

“Setiap satu tahun sekali kita datang di Punden Mbah Ajeng. Kalau sudah selesai, kita ke kuburan Jagok. Tujuanya untuk mebghormati dan mengenang para leluhur,” tuturnya.

Dalam acara tersebut, warga melakukan doa bersama agar permasalahan yang terjadi di Dusun Simbarlor, Desa Plosokidul agar segera terselesaikan. “Kami bukannya musrik. Semua kita berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Dengan acara nyadran ini disaksikan yang mencikal bakali desa sini permasalahan di desa kami segera terselesaikan. Dan yang salah segera di hukum, “harap Suyadi.

Punden Mbah Ajeng menurut warga masuk lahan konflik yang sampai saat ini masih belum terselesaikan. “Lahan ini juga lahan sengketa, “ungkap Jarwo salah seorang warga lainya.

Sebagaimana diketahui, penebangan pohon besar-besaran hingga ratusan itu di lahan PDP Margomulyo di Dusun Simbarlor, Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten ini melibatkan oknum perangkat desa setempat. Diduga kuat juga melibatkan orang kuat di pemerintahan Kabupaten. Saat ini kasus tersebut masih dalam penyelidikan pihak kepolisiaan.(gar)

Keterangan Gambar: Warga Plosokidul saat menggelar nyadran di Punden Mbah Ajeng