tambang pasir ilustrasiAdakitanews Kediri – Ratusan warga dari tiga desa yaitu Desa Satak, Manggis dan Gadungan Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri melakukan aksi unjuk rasa meminta penutupan lahan tambang lahar Gunung Kelud . Pasalnya , menurut warga pertambangan yang berada di Aliran lahar Sungai Ngobo sudah berlangsung selama setengah tahun terakhir ini tanpa izin.

Warga juga menuduh bahwa pertambangan tersebut merusak lahan perhutani serta tanaman milik warga. Warga menuntut agar kegiatan penambangan dihentikan dengan cara menyandera lima alat berat . Dua Operator alat berat yang mengetahui kemarahan warga langsung kabur ketakutan ketakutan .

Seluruh alat-lat berat yang ada di lokasi tambang oleh warga digiring keluar area pertambangan yang dianggap tak berizin. Aksi unjuk rasa nyaris diwarnai kericuhan saat salah satu perangkat desa , Harnowo menghalang-halangi ratusan warga yang mengusir alat-alat berat keluar dari lokasi. Beruntung kericuhan tidak terjadi setelah aparat dari kepolisian dari Satpol PP Kabupaten Kediri melerai.

Koordinator aksi, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Budidaya Satak Eko Cahyono mengatakan, pertambangan tersebut tidak berizin dan merusak lahan milik Perhutani yang kini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam. Selain itu, penambang juga tidak pernah melakukan komunikasi dengan warga serta tidak pula memberikan kompensasi dari kegiatan penambangan .

“Pertambangan ini tidak memiliki izin dan merusak lahan milik perhutani. Selain itu penambangan ini tidak memberikan kompensasi kepada warga. Padahal akibat penambangan ini warga sangat dirugikan” Ujar Eko Cahyono, Kketua LMDH Budidaya Satak.

Hernowo selaku wakil pihak penambang saat dikonfirmasi menolak kalau usahanya itu dianggap illegal. Saat ini surat perizinan sedang dalam proses. “ Perizinan sedang kami ajukan, mulai dari tingkat desa, Kecamatan, kabupaten, provinsi, Balai Besar Wilayah Sunga (BBWS) hingga pemerintah pusat sudah kami hubungi. Perizinan sudah mencapai 96 persen, dan segera turun ” ujarm ya

Kedua belah pihak akhirnya dipertemukan di Balai Desa setempat dengan dimediasi oleh pihak Satpol PP dan kepolisian. Pihak tambang yang diwakili oleh Hernowo yang juga perangkat desa dan perwakilan pengunjuk rasa diwakili oleh koordinator aksi. Warga tetap ngotot pada tuntutannya bahwa tambang harus ditutup total.

Penambangan pasir di aliran lahar Sungai Ngobo ini baru berlangsung beberapa bulan terakhir, setelah dibangunnya revitalisasi jalan yang melintasi di kawasan hutan sepanjang11,5 Kilometer dari Desa satak sampai Desa Gadungan Kecamatan Puncu. Isu yang beredar pengambilan pasir ini bukan penambangan, namun normalisasi saluran lahar kelud pasca erupsi kelud.
Namun belakangan pengambilan pasir di sepanjang aliran lahan adalah penambangan pasir dan batu. Dan ini tidak hanya berlangsung di Kabupaten Kediri namun juga terjadi di Kabupaten Malang dan Blitar. (TBW)

Keterangan Gambar : Ilustrasi tambang pasir yang diminta ditutup oleh warga tiga desa di Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri.